Cara Cepat Hamil
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Romantis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Romantis. Tampilkan semua postingan
Cerpen Cinta: DIA MILIKKU

Cerpen Cinta: DIA MILIKKU

Cerpen Cinta
Cerpen Cinta DIA MILIKKU
Oleh : Mimin Khoirum Widiawati

Cerpen Cinta DIA MILIKKU


        “Udahlah Ka! Kamu ternyata gak sebaik yang aku kira! Mendingan sekarang kita PUTUS!”
Kata-kata itu selalu terngiang ditelingaku. Aku putus dengan Judika. Orang yang sudah menjadi pacarku selama 3 bulan ini. Sungguh aku sangat sayang padanya. Tapi dia sudah menghancurkan kepercayaan yang telah kuberikan untuknya. Tapi, aku tidak ingin mengingat hal ini lagi. Aku harus melupakannya.

“Hai Ra.” Sapa Syifa, sahabatku
“ Hai juga Fa. Kamu sama siapa kerumahku?” tanyaku
“Sama pacar baruku. Kenalin, Judika ini Dira. Dira, ini Judika.” Kata Syifa yang amat sangat mengagetkanku. Kenapa bisa Syifa pacaran dengan mantanku? Memang salahku, yang gak pernah ngenalin Judika ke Syifa. Tapi emang dasarnya Judika playboy. Baru putus seminggu udah gandeng pacar baru. Aku pun berkenalan dengan Judika, dan seolah-olah aku tidak mengenalnya di hadapan Syifa. Aku tidak ingin menyakiti hati sahabatku.

Setelah kejadian itu, hampir tiap hari aku murung. Aku masih sangat menyayanginya. Tapi kenapa dia pacaran dengan sahabatku sendiri? Oh Tuhan. Aku bingung sekarang. Kadang muncul dibenakku rasa bersalah telah memutuskan Judika. Tapi, aku juga marah, karena waktu itu aku melihat dengan mataku sendiri kalau Judika selingkuh. Ahh! Aku bingung!! Tapi, aku mencoba untuk melupakan Judika dan berdoa yang terbaik untuk Syifa. Dan semoga juga, Syifa tidak disakiti oleh Judika.
Sebulan telah berlalu. Perlahan-lahan aku sudah mulai bisa melupakan Judika. Aku sudah mulai bisa melupakan sosok yang telah membuat hatiku sakit berulang kali itu. Terimakasih Tuhan, Engkau sedikit-sedikit sudah membantuku menghapus kenangan Judika. Hingga suatu hari di kelas. . . . .

“Ra. Lagi ngapain?” tanya Syifa tiba-tiba mengagetkanku
“Eh, kamu Fa. Ngagetin aja. Ini nih, aku lagi ngetik laporan buat dikumpulin ke Bu Eli besok. Kamu gak ngerjain laporannya?” tanyaku
“Ah, aku malas! Aku lagi galau nih.” Kata Syifa
“Galau kenapa Fa? tanyaku
“Aku putus sama Judika, gara-gara dia ketahuan selingkuh. Ihh!! Nyebelin banget sih jadi cowok! Benci banget deh aku sama dia!” kata Syifa sambil marah-marah
“Udahlah Fa. Mungkin bukan dia cowok yang pantas buat kamu. Kamu harus belajar buat ngelupain cowok yang gak punya perasaan kayak dia.” Kataku menenangkan Syifa
“Iya Ra. Makasih yah. Kamu udah ngasih saran ke aku.” Kata Syifa
“Iya. Sama-sama.” Jawabku


Bel pulangpun berbunyi. Aku segera merapikan meja dan bergegas ingin pulang. Tapi langkahku terhenti setelah ada yang menghalangi langkah kakiku. Sosok bertubuh tinggi, ganteng, dan dengan bau parfum yang tidak asing bagiku. Yah, Judika.

“Mau apa kamu?” tanyaku dengan tatapan yang sinis
“(sambil memegang tanganku) maafin aku Ra.” Kata Judika
“(sambil menarik tanganku) gak bakal!” jawabku singkat
“Plis Ra. Aku masih sayang banget sama kamu. Waktu kamu putusin aku, kamu sama sekali gak mau dengerin penjelasan dari aku. Semua itu gak seperti yang kamu lihat Ra. Pliis, percaya sama aku.” Kata Judika
“Oh yah? Jadi yang aku lihat waktu itu apa? Kamu lagi main drama? Atau mungkin, teater? Mesra-mesraan sama cewek lain sementara kamu masih pacarku waktu itu! Dimana sih, hatimu Ka? Pembelaan dirimu itu gak penting buatku! Aku gak bakalan pernah percaya!” kataku kesal dan sempat meneteskan air mata
“Yang kamu lihat waktu itu semuanya gak bener Ra. Sebenernya, dia itu mantanku. Dia gak pernah terima aku putusin. Dia terus aja ngejar-ngejar aku. Sampai waktu hari itu, kamu ngeliat aku yang dipeluk sama dia. Dia tiba-tiba aja meluk aku waktu kamu datang. Dia sengaja pengen ngancurin hubungan kita. Dan rencananya berhasil. Kita putus dengan mudahnya. Karena hasutan orang lain.” Kata Judika
“Tapi kenapa kamu pacaran sama Syifa Ka? Sama sahabatku sendiri? Terus kamu tega nyakitin perasaan dia. Kamu selingkuhin dia! Kamu itu cowok macam apa sih?!” kataku kesal
“Maafin aku Ra. Sebenernya, aku pacaran sama Syifa cuma buat ngilangin rasa sakit hatiku ke kamu. Aku Cuma pengen dapetin penggantimu. Tapi, kamu memang pemenangnya Ra. Kamu abadi dihatiku. Aku gak pernah bisa buat ngelupain kamu meskipun aku pacaran sama sahabat kamu sendiri. Aku sayang sama kamu Ra. Pliis Dira, maafin aku.” Kata Judika membuat hatiku luluh
“Aku juga minta maaf Ka. Waktu itu, aku gak pernah mau dengerin penjelasan kamu. Aku juga sebenernya masih sayang sama kamu.” Kataku
“Jadi kita balikan lagi yah. Kamu mau kan jadi pacarku lagi?” kata Judika
“(mengangguk)”

Akhirnya, aku pulang bersama dengan Judika. Senang sekali rasanya bisa balikan sama Judika. Aku sadar kalau aku memang sangat menyayanginya. Bagiku, Judika segalanya. Meskipun aku sempat mencoba untuk melupakannya, tapi rasa sayangku untuknya tetaplah abadi. Hingga hal yang tak pernah kuinginkanpun terjadi.

“Pagi Fa.” Sapaku pada sahabat baikku itu
“(menatapku sinis, lalu mengalihkan pandangannya tanpa menjawab sapaanku)”
“Kenapa? Ada yang salah yah sama aku? Aku udah buat kamu marah yah? Aku minta maaf yah Fa.” Kataku seraya mengulurkan tanganku untuk meminta maaf pada Syifa
“(menepis tanganku) kamu itu bener-bener cewek licik yah.” Katanya sambil tersenyum sinis
“Apa maksudmu?” tanyaku tak mengerti
“Pasti kamu kan, yang udah ngerayu Judika biar dia putus sama aku? Dasar cewek licik. Sahabat sendiri ditikung. Aku liat dengan mataku sendiri kemarin kamu pelukan sama Judika didepan kelas. Dasar perebut kamu Ra! Aku benci sama kamu!” kata Syifa yang sangat mengagetkanku
“Kamu salah paham Fa. Semuanya gak seperti yang kamu kira. Aku gak nikung kamu.” Kataku memberi penjelasan kepada Syifa
“Allaaahh! Alasan kamu tuh udah basi tau gak? Yang kenalin Judika kekamu itu aku Ra. Kenapa kamu malah kayak gini sama aku? Dimana sih hatimu sebagai seorang cewek?” kata Syifa diikuti dengan tangisan
“Maafin aku Fa. Aku yang gak pernah cerita kekamu. Sebenernya, Judika itu mantanku. Dulu, aku putusin dia karena aku salah paham sama dia. Dan aku gak mau dengerin penjelasan dari dia. Dia sangat terpukul, makanya dia pacarin kamu. Dia tau kalau kamu tuh sahabatku. Dia pikir, dengan dia pacarin kamu, rasa sayangnya ke aku tuh bakalan hilang. Tapi nyatanya gak. Dia masih tetap sayang sama aku. Makanya kemarin dia dateng kekelas buat minta maaf ke aku. Dan ngejelasin semuanya. Akhirnya, aku balikan lagi sama dia. Tapi kalau karena dia persahabatan kita jadi hancur, aku bakalan putusin dia lagi Fa.” Kataku sambil menangis
“(memelukku) maafin aku yah Ra. Aku udah salah paham. Gak usah Ra, kamu gak usah putusin Judika. Kamu cocok kok sama dia. Aku dukung kalian. Maafin aku yah.” Kata Syifa

Aku akhirnya baikan sama Syifa. Dan hubunganku dengan Judika, tetap berjalan lancar. Aku berharap, bisa selamanya bersama dengan orang-orang yang kusayangi.


=====*****=====
|T|H|A|N|K|'S| |F|O|R| |R|E|A|D|I|N|G|

Itulah Cerpen Cinta DIA MILIKKU  Dari  Mimin Khoirum Widiawati

Profil Penulis
Nama : Mimin Khoirum Widiawati
TTL : Malang, 26 DEsember 1996
Sekolah : SMKN1 Bontang Kalimantan Timur
Alamat : Jalan RE MARTADINATA Loktuan, Bontang
Hobi : Menulis, Memasak, Tidur
Alamat Facebook : widicamutz@yahoo.co.id
Alamat Twitter : MiminKhoirum@yahoo.co.id


Punya Cerpen Juga Atau Puisi silahkan kirim ke blog ini dengan menuju link Kirim Tulisanku

Cerpen Cinta: SINAR MENTARI

Cerpen Cinta: SINAR MENTARI

Cerpen Cinta
Cerpen Cinta SINAR MENTARI
Oleh : Mimin Khoirum Widiawati

Cerpen Cinta SINAR MENTARI

         Aku menapaki jalan setapak yang basah dan becek karena baru saja telah turun hujan. Jalan ini lengang, tak ada satu orangpun yang lewat, kecuali aku. Aku takut, tapi aku berusaha untuk melawan rasa takutku, dan bergegas ingin sampai kerumah. Aku baru saja pulang dari kursus memasak. Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Tapi, aku belum juga sampai dirumah dikarenakan jalan yang becek, membuatku sulit untuk berjalan. Jalan ini licin, aku takut terpeleset. Dan tiba-tiba. . . . . . . .
BRAKKK!!!!!!! Aku terjatuh. Sakit memang, tapi aku harus bangun. Kondisi badanku yang memang kurang enak, membuatku tidak ingin melanjutkan perjalanan. Tapi aku harus pulang. Akhirnya, pukul 9.30 malam aku sampai dirumah.

Sesampainya dirumah. . . .

“Dari mana saja kamu nduk..?” tanya Ibuku
“Maaf Bu, aku tadi pulang dari kursus memasak, tapi karena jalanan licin dan becek aku tidak bisa cepat-cepat Bu. Aku takut jatuh, ini aja aku udah jatuh..” Jawabku
“Aduh Sinar, Ibu kan sudah bilang, kamu tidak usah lagi ikut kursus yang tidak penting itu nduk. Ibu bisa mengajari kamu memasak tanpa perlu kursus-kursus. Kondisi kamu tidak seperti teman-temanmu yang sehat nduk. Kamu perlu banyak istirahat. Nanti penyakitmu kambuh kalau kamu terlalu banyak aktivitas..” kata Ibu cemas.
“Tapi Bu. . . .”
“Tidak ada tapi-tapian nak. Ibu tidak ingin kamu jatuh sakit lagi. Ibu tidak ingin kehilangan kamu nduk. Untuk kali ini saja, turuti Ibu sayang.” Kata Ibu
“Aku gak bisa Bu. Maafin aku. Aku senang memasak, aku gak bisa tanpa memasak Bu. Aku ingin menjadi hebat seperti chef-chef yang terkenal yang sering muncul di TV itu Bu.” Kataku
“Jangan bodoh Sinar! Kamu ini sakit! Kamu tidak seperti teman-temanmu yang sehat. Kamu harusnya lebih memperhatikan kesehatanmu nak.” Kata Ibu
“Iya Bu. Aku tau kalau aku ini penyakitan. Tapi, apa aku gak boleh, mengejar cita-citaku Bu? Gak boleh? Saat aku memasak, aku merasa lebih senang dan lupa akan semua penyakit yang menimpaku Bu. Saat aku memasak, aku merasa sangat tenang. Aku mohon Bu, izinkan aku untuk tetap kursus memasak..” pintaku
“Baiklah Sinar jika itu kemauanmu. Ibu ingin yang terbaik untukmu nak. Tapi kamu harus ingat, kamu harus menjaga kesehatanmu, supaya penyakitmu tidak gampang kambuh..” kata Ibu
“Iya Bu. Makasih yah Bu (sambil memeluk Ibu)”
“Iya nduk. Sekarang kamu tidur yah, besok kan kamu harus sekolah.” Kata Ibu
“Baik Bu..” jawabku
Aku pun masuk kedalam kamar dan bersiap-siap untuk tidur. Yah, beginilah keadaanku. Tinggal di rumah yang sederhana dengan seorang Ibu yang begitu menyayangiku. Ayahku sudah lama telah tiada. Aku mempunyai seorang adik perempuan dan seorang kakak laki-laki. Namaku, Sinar Mentari. Yah, nama yang sangat indah untuk kumiliki. Aku senang dengan namaku itu. Sudah 2 tahun ini, aku divonis Dokter mengidap Leukimia. Dokter memprediksikan, bahwa umurku tidak akan lama lagi. Tapi buktinya, sampai saat ini aku masih bisa bertahan demi orang-orang yang kucintai. Demi Ibu, Kak Radit, dan Savira. Aku sangat menyayangi mereka. Aku sekarang sedang duduk di kelas X SMA. Aku sangat hobi sekali memasak. Dulu, Ibuku menentang hobiku itu, karena dia pikir dengan aku kursus memasak, aku akan menghabiskan banyak tenaga sehingga aku kecape’an, dan akhirnya penyakitku kambuh lagi. Tapi sekarang, Ibu sudah mendukung hobiku. Aku senaaaang sekali.

Keesokan harinya. . . . .

“Sinaaaaaaaaaaaaarrrr!!! Baaaaaannnggguuuunnnn!!! Teriak Kak Radit tepat di telingaku.
“(kaget) apaan sih Kak Radit. Aku masih ngantuk.” Jawabku bermalas-malasan
“Yasudah kalau kamu gak mau sekolah, tidur aja terus. Kakak udah mau berangkat nih.” Kata Kak Radit
“Emangnya ini jam berapa sih Kak?” tanyaku
“Jam setengah 7.” Kata Kak Radit sambil berlalu keluar dari kamarku
“Apaaaa!!! Aduh Kak Raaaaaaaaaddddiiiiiittt!! Kenapa gak bilang dari tadi kalau udah jam segini. Aku kan bisa telat! Kak Radiiiitt!!” kataku memanggil Kak Radit
“Yah salah sendiri. Udah yah, kakak berangkat dulu. Assalamualaikum Sinar..” kata Kak Radit sambil meninggalkanku, dia pergi dengan tawa bahagia karena adiknya telat.
“Walaikumsalam, eh Kak Radit! Aduuh. Tungguin dong, aku mandinya kilat deh.. Kak, Kak Radit..” kataku
“Gak mau ah. Nanti kakak telat lagi. Hahahahaha!!” kata Kak Radit
“IIIIHHHHH!! Kak Radit NYEBELIN!!” kataku
Akupun bergegas untuk mandi dan bersiap-siap kesekolah. Gara-gara telat, aku jadi lupa sarapan dan lupa mengambil uang saku. Alhasil, aku jalan bahkan sedikit berlari untuk mencapai sekolahku yang jaraknya kurang lebih 1km dari rumahku. Saat perjalanan kesekolah, tiba-tiba saja ada motor yang berhenti tepat disebelahku. Akupun menengok dan. . . . .
“Telat yah?” tanya Reyhan, teman sekolahku
“Oh kamu Rey. Aku kira siapa. Iya nih. Mana Kak Radit gak mau antarin aku lagi. Nyebelin!” jawabku
“Hahahaha! Habisnya kamu telat sih, jelaslah Kak Radit gak mau antarin kamu. Yaudah, bareng aku aja yuk..” ajak Rey
“Hmm. Iya deh.” Jawabku
Akupun naik keatas motor Reyhan. Reyhan adalah teman sekolahku. Tepatnya, teman sekelasku sekaligus sahabat baikku. Aku sangat suka padanya, karena dia baik. Bukan suka yang gimana-gimana loh. Hihihih. Reyhan ganteeeng banget. Banyak cewe-cewe disekolah yang naksir dia. Tapi, dia gak mau. Mungkin Reyhan trauma sama cewe kali yah. Tapi gak papa sih, Reyhan tetap sahabat baikku, seperti apapun dirinya. Aku sayang Reyhan.

Sesampainya disekolah. . . . . . .

“Sampai didepan gerbang yah aja tuan putri yang cantik.” Kata Reyhan
“Ih! Apaan sih Rey.? Hahahah! Iya deh. Makasih yah, pangeran yang buruk rupa.” Jawabku
“Eh! Sialan! Aku dikatain buruk rupa. Awas aja yah kamu, nanti gak aku tebengin lagi.” Kata Reyhan
“Hahahahh! Iya iya deh, sori Reyhan yang keren. Makasih yah.” Kataku
Akupun berlalu meninggalkan Reyhan yang akan memarkir motornya. Sesampainya dipintu kelas, aku melihat belum ada guru yang masuk. Syukurlah, aku tidak terlambat. Akupun lalu duduk ditempatku, dan mulai membuka-buka buku pelajaran yang akan kami pelajari hari ini. Yah, itulah kebiasaanku. Selalu membuka buku sebelum pelajarannya dimulai. Saat Reyhan masuk kedalam kelas, tepat sekali. Belpun berbunyi. Semua murid bergegas masuk kedalam kelas dan duduk ditempatnya masing-masing. Tak berapa lama kemudian, Bu Dian guru Bahasa Indonesia pun masuk. Tanpa banyak basa-basi, dia langsung mengucapkan salam dan pelajaranpun dimulai. Aku sangat suka pelajaran Bahasa Indonesia.
Tak berapa saat kemudian, bel pun berbunyi. Menandakan pergantian jam pelajaran. Tak berapa lama juga, Pak Heru guru Matematika pun masuk. Dia langsung menanyakan PR yang diberikannya minggu lalu. Kami pun langsung mengumpulkannya dan beliau pun langsung melanjutkan pelajarannya saat semua murid sudah mengumpulkan PR. Akhirnya, bel pun berbunyi. Ini menandakan istirahat telah tiba.

“Baiklah anak-anak, pelajarannya kita lanjutkan besok, sekarang sudah waktunya istirahat. Jangan lupa untuk mengerjakan tugas yang Bapak berikan. Bapak akhiri, Assalamualaikum.” Kata Pak Heru sambil meninggalkan kelasku
“Walaikumsalam” jawab murid-murid

Di kantin. . . . . . .

“Hay Sinar, lagi ngapain kamu?” sapa Reyhan tiba-tiba
“Aduh Reyhan, daritadi ngagetin terus sih. Aku lagi belajar resep buat cake nih. Hehehheh” jawabku
“Loh. Bukannya Ibu kamu melarang kamu buat ikut kursus memasak itu yah? Nanti kamu sakit lagi Sin. Kamu harus jaga kesehatan kamu. Ingat itu.” Kata Reyhan mengingatkan
“Iya Rey. Tapi itu dulu, sekarang Ibuku sudah mengizinkan untuk ikut kursus memasak itu. Aku senaaaang sekali. Ibuku akhirnya mengerti apa keinginanku.” Jawabku riang
“Wah.. Baguslah kalau begitu. Itu artinya, kamu bisa menyalurkan bakat memasakmu dan kamu bisa menjadi hebat seperti chef yang TV itu.” Kata Reyhan
“Hahahah!! Pikiranmu sama denganku Rey. Aku juga ingin menjadi seperti itu. Sangat ingin.” Kataku
“Tapi kamu harus ingat Sinar, kamu harus lebih menjaga kesehatanmu. Aku gak mau kamu sakit lagi. Kamu jangan terlalu lelah yah.” Kata Reyhan mengingatkan
“Iya Rey. Aku tau kok.” Kataku

Bel masukpun berbunyi. Semua murid-murid bergegas memasuki kelasnya masing-masing. Begitupun aku dan Reyhan. Tak terasa, waktu begitu cepat berlalu. Akhirnya, bel yang ditunggu-tunggu pun berbunyi. Yah, bel yang menandakan waktu pulang sekolah. Semua murid lalu merapikan barang-barangnya dan memberi salam pada guru yang terakhir mengajar. Kami semua pun akhirnya pulang.

Perjalanan pulang. . . . . .

“Sinar, pulang sama siapa?” tanya Reyhan
“Gak tau nih Rey. Kayaknya Kak Radit gak jemput aku deh.” Jawabku
“Yaudah, bareng aku aja yuk, daripada kamu jalan kaki atau naik bis, ongkosnya lebih mahal, lagian pasti kamu capek juga kalau jalan kaki. Aku tau kalau kamu gak bawa uang saku kan?” kata Reyhan
“Heheh!! Iya. Yaudah deh, aku bareng kamu aja (sambil naik kemotornya Reyhan)”
“Tapi, kita makan dulu yah.” Kata Reyhan
“Terserah kamu aja Rey. Tapi traktir yah.” Jawabku
“Sip oke bos..” jawab Reyhan

Aku dan Reyhan pun tiba disebuah tempat makan. Reyhan memesankan aku makanan dan minuman. Dia juga memesan sama seperti makanan dan minumanku. Kami berdua pun makan. Setelah kenyang, aku dan Reyhan pulang. Reyhan mengantarkanku sampai kerumahku. Setibanya dirumahku, Reyhan tidak mau mampir. Katanya, ada les yang harus dia ikuti dan tidak boleh terlambat. Akupun lalu mengucapkan terimakasih padanya, lalu aku masuk kedalam rumahku. Reyhan pun pulang. Saat aku memasuki rumahku, Ibu sudah menungguku di meja makan. Ibu lalu mengajakku untuk makan siang bersama.

“Sinar, kamu sudah pulang nduk. Makan dulu yah nak, ganti baju kamu dulu.” Kata Ibu
“Aduh Bu, maaf yah. Tapi aku tadi sudah makan sama Reyhan Bu. Tadi aku pulang sama dia, jadi sekalian diajak makan sama dia.” Jawabku
“Yasudah, kamu ganti baju aja dulu. Jangan lupa shalat ya nduk.” Kata Ibu
“Oke deh Bu, Sinar kekamar dulu yah Bu.” Jawabku
Sesampainya dikamar, aku langsung ganti baju. Setelah ganti baju, aku bergegas mengambil air wudu untuk melaksanakan shalat Dhuhur. Beberapa saat kemudian, akupun selesai shalat. Aku lalu merebahkan tubuhku diatas kasur dan aku mulai menulis di buku harianku.

Ada getaran yang beda, ketika sepasang mata yang indah itu saling menatap. Ada sesuatu, yang sangat spesial dan sangat berarti maknanya bagiku. Aku ingin, jika sepasang mata yang indah itu menjadi milikku. Aku ingin memilikinya. Ingin sekali. Tuhan, apakah ini cinta? Sampai saat ini aku masih belum mengerti. Ketika aku berada dalam sebuah hutan yang gelap dan tidak ada siapapun disana, aku bisa melihat sebuah cahaya yang terang menyala. Yah, cahaya cinta dari seseorang yang memiliki sepasang mata yang indah.

Sinar

Setelah selesai menulis dibuku harianku, tanpa sadar akupun terlelap. Sampai akhirnya, adzan berkumandang. Akupun terbangun dari tidur siangku. Aku lalu mengambil air wudu dan melaksanakan shalat Ashar. Setelah selesai shalat, aku berjalan keluar kamar. Aku duduk dihalaman belakang rumahku. Aku duduk, dan terus duduk disana. Aku merenungi nasibku. Sampai kapankah aku akan bertahan hidup? Akankah aku sembuh? Ya Tuhan. Pikiranku kacau sekarang. Tanpa aku sadari, air mataku pun mengalir. Aku dengan cepat menghapusnya, sambil berkata “Tidak Sinar! Kamu orang yang kuat, kamu pasti bisa Sinar! Jangan putus asa!”

Beberapa hari kemudian. . . . .

“Oh Tuhan, sampai kapankah aku akan bertahan?” Sudah seminggu ini pikiranku diganggu oleh pertanyaan itu. Bahkan aku sampai lupa untuk kursus memasak karena aku merasa telah hancur. Aku bukanlah Sinar yang biasanya. Kali ini aku lebih rapuh dan lebih mudah putus asa. Mengapa aku seperti ini? Apakah Tuhan akan memanggilku sebentar lagi? Entahlah, yang jelas sekarang aku tidak berminat untuk melakukan apa-apa. Aku hanya berusaha untuk memperbanyak amal baikku dan terus melaksanakan perintah-perintahNya. Mungkin ini adalah sebuah firasat, kalau Tuhan akan memanggilku sebentar lagi.
Hari-hari belakangan ini selalu aku lewati dengan murung. Tak seceria biasanya. Hingga pada suatu sore, aku bertemu dengan Rey di sebuah taman. Aku kebetulan jalan-jalan disana sendirian untuk menghilangkan pikiran-pikiran yang selama ini menggangguku. Dan, Rey pun menyapaku.
“Sendirian aja Sin?” tanya Reyhan
“Iya Rey. Kamu juga sendirian?” tanyaku balik
“Iya, kamu ngapain disini? Akhir-akhir ini, aku sering melihatmu murung dan berdiam diri. Gak seperti Sinar yang biasanya. Sinar yang periang dan lucu. Ada apa?” tanya Reyhan khawatir

Akupun duduk di sebuah bangku taman, dan mulai bercerita apa yang selama ini aku alami pada Reyhan.

“Rey, kamu gak akan pernah ngerti apa yang selama ini aku rasain.” Kataku, memulai pembicaraan
“Apa maksudmu Sin?” tanya Reyhan
“Aku mencoba buat menjadi seorang yang periang dan lucu dihadapan semua orang, tapi itu hanya kebohongan yang besar. Aku rapuh Rey, aku pecundang, aku hancur!” kataku seraya menitikkan air mata
“(sambil memelukku yang sedang menangis) kata siapa? Kamu gadis yang kuat Sinar. Kamu itu adalah inspirasi bagi penderita leukimia yang lain. Kenapa kamu ngomong kayak gitu? Apa yang membuat kamu berfikir seperti itu setelah kamu bisa melupakan penyakitmu dan mencoba menjadi periang didepan orang-orang yang mengkhawatirkanmu? Kamu itu gadis yang luar biasa! Kamu tau itu Sinar? Kamu tau kenapa kamu menjadi gadis yang luar biasa? Karena kamu masih bisa tersenyum disaat kamu sedang susah, kamu masih bisa tertawa, dan kamu juga bisa membuat orang lain tertawa. Kamu luar biasa!” kata Reyhan memberiku semangat
“(tersenyum) makasih Rey, kamu udah ngajarin aku hal baru. Kamu baik banget. Sekarang, aku bakalan coba buat jadi Sinar yang dulu lagi. Makasih yah Rey. (memeluk Reyhan)”
“Iya Sinar, oiya ada satu hal lagi yang pengen aku sampein ke kamu.” Kata Reyhan membuatku penasaran
“Apa?” tanyaku
“Selama ini, ada sebuah bintang yang bersinar terang dihatiku. Aku ingin memiliki bintang itu. Ingin sekali. Bintang itu bernama Sinar.” Kata Reyhan
“Maksudmu?” tanyaku lagi
“Aku mencintai kamu Sinar. Aku sayang sama kamu. Kamu mau kan jadi pacarku?” kata Reyhan membuat jantungku serasa berhenti berdetak

Tuhan. Hatiku serasa melayang mendengar perkataan Reyhan. Aku juga mencintainya, sangat sangat mencintainya. Terimakasih Tuhan, Engkau mengirimkanku seorang malaikat yang akan terus menuntunku kearah yang benar. Akupun mengiyakan pertanyaan Reyhan, yang berarti aku mau menjadi kekasihnya. Reyhan ternyata sama denganku, dia juga sangat senang mendengar jawabanku. Terimakasih Tuhan.

Beberapa bulan kemudian . . . . .

Sudah 2 bulan aku pacaran dengan Reyhan. Hubungan kami sangat akur. Aku semakin lama semakin mencintainya. Hingga bencana itu datang. Bencana yang selama ini aku takutkan. Yah, leukimia. Penyakit itu semakin ganas. Dia tidak mau lagi bertoleransi dengan tubuhku. Hingga akhirnya, aku harus dirawat dirumah sakit. Sedih memang, aku tidak bisa melihat Reyhan yang selalu menghiburku, kemana dia? Mengapa dia tidak datang menengokku. Ya Tuhan, ada apa dengan Reyhan?
Sudah seminggu aku dirawat dirumah sakit, tapi Reyhan tidak juga menengokku. Apakah Reyhan sudah mulai bosan dengan wanita penyakitan seperti aku? Ah, itu tidak mungkin! Reyhan sangatlah menyayangiku. Sampai suatu hari, penyakitku semakin parah. Aku sudah tidak sanggup lagi untuk berkata-kata. Dan hari itu, Reyhan datang dengan membawa sebuah cake kesukaanku. Ya Tuhan, Reyhan sengaja membelikan cake itu untukku? Senangnya..

“Gimana? Udah enakan?” tanya Reyhan
“(menggeleng) pe-nya-kit-ku se-ma-kin pa-rah Rey. A-ku ti-dak bi-sa ba-nyak ber-bi-ca-ra.” Jawabku dengan terbata-bata
“(menangis sambil memelukku) maafkan aku Sinar, aku tidak pernah ada disaat kamu membutuhkanku. Aku benar-benar tidak berguna buatmu Sinar. Maafin aku. Ini, aku bawakan cake kesukaanmu. Selama ini, aku kursus masak sepertimu, agar aku bisa membuatkan kamu sesuatu. Seperti cake ini. Gimana, kamu suka gak?” tanya Reyhan sambil terus menangis
“(mengangguk) i-ya, gak pa-pa. Rey-han, a-ku sa-yang ka. . . . . .
“Sinar, Sinar!! Bangun Sinar! Kamu kenapa? Jangan tinggalin aku Sinar!!! Sinaaaaaarrrrrr!!!” teriak Reyhan

Sinarpun meninggal. Dia menitipkan secarik kertas untuk Reyhan. Yang isinya. . .

To : Reyhan sayang
Ketika pemilik sepasang mata yang indah itu menjadi milikku, aku sangat senang. Bahkan, sulit rasanya untuk aku percaya kalau aku adalah pacarmu. Aku menyayangimu Rey. Meskipun aku udah gak ada disisi mu, tapi percayalah kalau aku akan selalu ada dihatimu. Aku akan selalu hidup disana, menemanimu sampai kapanpun. Aku sayang kamu Rey.
Sinar

Reyhanpun menangis. Dia sadar kalau dia benar-benar mencintai Sinar. Sosok wanita yang membuat hidupnya menjadi lebih berwarna. Yang selalu memberi tawa dihidupnya. Dialah Sinar, Sinar Mentari yang sangat dia sayangi. Yang untuk hari ini dan seterusnya, akan hidup dihati Reyhan meskipun sosoknya sudah tidak bisa lagi dilihat..


=====*****=====
|T|H|A|N|K|'S| |F|O|R| |R|E|A|D|I|N|G|

Itulah Cerpen Cinta SINAR MENTARI  Dari  Mimin Khoirum Widiawati

Profil Penulis
Nama : Mimin Khoirum Widiawati
TTL : Malang, 26 DEsember 1996
Sekolah : SMKN1 Bontang Kalimantan Timur
Alamat : Jalan RE MARTADINATA Loktuan, Bontang
Hobi : Menulis, Memasak, Tidur
Alamat Facebook : widicamutz@yahoo.co.id
Alamat Twitter : MiminKhoirum@yahoo.co.id


Punya Cerpen Juga Atau Puisi silahkan kirim ke blog ini dengan menuju link Kirim Tulisanku

Cerpen Cinta: MALAIKAT UNTUK TASYA

Cerpen Cinta: MALAIKAT UNTUK TASYA

Cerpen Cinta
Cerpen Cinta MALAIKAT UNTUK TASYA
Oleh : Mimin Khoirum Widiawati

Cerpen Cinta MALAIKAT UNTUK TASYA
      Oke , kenalin . Nama gue Natasya Five Nindry Dewi . Panggil aja gue Tasya .Gue itu anak ke lima dari 5 bersaudara , yaa anak bungsu gitu deeh .Gue tuh manja abis , dan gue gak suka banget sama warna merah .Gue gak pernah akur sama kakak-kakak gue .Gue benci mereka semua . Gue gak suka aturan yang mereka buat untuk gue . Kalau menurut gue , itu gak bakalan ngerubah sifat gue yang urak-urakan ini .Jadi , gue milih jalanin aja hidup gue tanpa mikirin mereka semua .Gue gak punya ortu lagi . Mereka udah tenang di surga sana .
Semenjak kematian kedua ortu gue , gue jadi kayak gini . Gue jadi anak yang berandalan . Gue gak terima , kalau gue mesti hidup sama kakak yang gak pernah gue suka . Jadi , ginilah caranya gue memberontak dari kehidupan gue yang gak pernah bersahabat sama gue .
Kakak gue itu , sukanya ngomel , marah gak jelas , nyuruh ini , nyuruh itu , iiihh ...!! emang nya dia kira gue pembantu apa ??!!
Kalau gak mau cepet tua karena ngadapin gue , mendingan kerjain sendiri aja deeh , tuh semua. Paling males yah, kalau disuruh bangun pagi. Ampuunnnn. Gue gak bisa banget bangun pagi-pagi tau gak siiih????!!!
Tapi, ada satu hal yang bikin gue sampai saat ini masih mau sekolah. Yaitu, Mila. Sahabat gue. Tanpa dia, gue bukan siapa-siapa. Dia yang udah ngajarin gue arti sebuah kehidupan.
Bagi gue, Mila sangat berarti.
Gue sayang banget sama sahabat gue itu..

Suatu pagi di sekolah. . . . .

Uhh .. Sial banget sih gue hari ini ..!! Dasar kakak gak tau terima kasih !
Udah bagus-bagus yaa , gue mau di suruh nyuci piring , eh malah gak di kasih uang jajan . Awas loe nanti kalau gue pulang , gue pecahin tuh semua piring !!
Uhhhhhh !!! ( sambil menendang sebuah kaleng )
Bruukk ... kaleng itu mengenai kepala seorang guru BP yang sangar nya minta ampun .
“ Tasya !! apa yang kamu lakukan ?” tanya Bu Indah sambil memelototi Tasya .
“Nendang kaleng Bu,”
“Kamu tahu tidak , kaleng itu kena kepala Ibu , apa kamu mau , masuk ruang BP ?”
“Udah laa Bu, gak benjol juga . Manja banget sih Ibu , kena kaleng gitu aja udah mau masukkan saya ke ruang BP.” ( sambil berlalu meninggalkan Bu Indah yang sedang ngomel-ngomel )
“Tasyaaaaaaaaaaaaa !!!!!!! Ibu kurangi point kamu , Ibu kurangi 25 . awas kamu kalau ketemu Ibu lagi , gak akan Ibu biarin pergi kamu ! Dasar murid kurang ajar !!!!” ( sambil memegangi jidat nya yang rada benjol )

Sesaat kemudian ....
“Haaii-haaii” sapa Tasya pada sahabat nya .
“Haii juga Sya” kata sahabat nya , Mila .
“Lagi mikirin apa’an sii ?” tanya Tasya penasaran .
“Ini nii , katanya mau ada murid baru di kelas IX B . Katanya sih ganteng , cute , pokoknya perfect abis deh .” kata Mila , dengan nada yg di lebay-lebay’in .

Tasya mempunyai sahabat yang sangat mengerti dia . Namanya Mila .
Mila senasib dengan Tasya , sama-sama sudah gak punya orang tua lagi . makanya mereka berdua serasa klop banget giitu .

“Alaah . Seganteng apa sih ? Paling juga di bawahnya kakak Nicky . “ kata Tasya sambil menyebut nama artis idolanya , yaitu Nicky XOIX .
“Huuuh .. Nickyyy aja terus , gak bakalan juga loe ketemu dia Sya , jangan mimpi deh hahahahah .” kata Mila menertawai Tasya .
“Awas lo yaa La, kalau gue ketemu , gue jitak lo .” Hmm ..
“Ke kantin yuk La .” kata Tasya .
“Ayo , laper gue .” kata Mila.

Beberapa menit kemudian , Tasya dan Mila tiba di kantin sekolah yang kebetulan jauh dari kelas mereka , jadi mereka berdua bisa bolos tanpa sepengetahuan guru .
Di kantin , Tasya makan banyak sekali , karena dia tidak sarapan pagi tadi .
Mila pun demikian .

Tiba-tiba , datang sesosok pria yang tampan dan gagah duduk di meja sebelah Tasya dan Mila makan .

“Syaa .. Ganteng banget cowo itu .” kata Mila sambil menyikut-nyikut tangan Tasya .
“Apaan sih loe La ? Gue lagi makan nih , jangan di ganggu .” kata Tasya .
“Itu Sya , liat dulu .” kata Mila .
“Ah , mendingan gue makan , udah jangan ganggu gue .” kata Tasya .

Tiba-tiba cowo itu menyapa Mila .
“Haii Mila ...” kata Reno , nama cowo itu .
“Haaa haa haa haaiii ju ju ju gaa ..” kata Mila dengan gagap . ( Mila kalau ngobrol sama cowo cakep pasti jadi gagap )
“Rileks aja lagi ngomong sama gue , nama gue Reno . Gue anak baru , gue tau loe dari anak-anak yang pada ngomongin loe , katanya loe tukang bolos yaa ?” kata Reno .
“Salam kenal yaa , Reno . Hmm , gue sebenernya gak mau bolos , tapi temen gue yang satu ini nii , yang ngajakin gue bolos mulu’ , yaa . jadi kebiasaan deh . heheheh ..” kata Mila sambil malu-malu .
“ouh . jadi si Tasya ini yang ngajarin lo bolos-bolos gitu yaa ?” kata Reno sambil melirik Tasya yang lagi makan bakso .
“Apa lo ?! Lirik-lirik gue ?!! Mau gue makan lo ?” kata Tasya sinis .
“Dasar cewe aneh . Udah lah La , kita ngobrol berdua aja . Gak usah ngurusin temen lo yang gak tau malu itu .” kata Reno .
“apa kata lo ?!!!!!! Belum tau gue lo yaa . Gue gibeng terbang lo .!” kata Tasya sedikit ngamuk .
“Oiya La , lo kelas berapa ?” tanya Reno pada Mila dan dia tidak menghiraukan Tasya yang marah-marah .
“Kelas 3 Ren , lo kelas berapa ?” tanya Mila balik .
“Sama , waah .. Jangan-jangan kita satu kelas , gue kelas IX B .. lo ?” tanya Reno lagi pada Mila .
“Gue kelas IX C Ren . yaah , gak sekelas deh .” Kata Mila .

Mereka berdua pun asyik ngobrol dan tidak menghiraukan Tasya . Akhirnya Tasya marah dan dia meninggalkan Reno dan Mila berdua di kantin .

Sesaat kemudian ....
“Tasya , kamu kenapa ?” tanya salah seorang siswa bernama Joni yang ternyata menyukai Tasya , dia adalah anak yang pintar dan sopan .
“Gak usah tanya-tanya !!!!! Lo kira lo siapa berani-beraninya tegur gue ?!!” kata Tasya marah .
“Bukan gitu Sya , aku cuma pengen tau , aku sedih liat kamu sedih terus .” kata Joni .
“Lo gak usah sok perhatian deh sama gue . Gue gak butuh perhatian dari lo . !!! Pergi sana lo .!” kata Tasya.

Akhirnya, Joni pun pergi meninggalkan Tasya yang masih saja marah-marah.

Tiba-tiba....
“Sya, ngambek yaa ????” sapa Mila yang merasa bersalah.
“Gak.” dengan ketusnya Tasya menjawab.
“Yaaaah Sya. Gitu aja ngambek. Jangan ngambek dong Sya. Pliiiisss.” kata Mila
“Apaan sih lo ?? Pergi sana sama sii Reno itu. Iiuuuh” kata Tasya
“Hmmmm. Cemburu yaaah ?? Lo suka yah, sama Reno ? Ciiee.” kata Mila
“Iihh. Apaan sih. Gak lagi, jangan ngaco yah lo La.” kata Tasya
“Makanya, maafin gue yah Sya, pliiiiiiiiiiiissssss banget” kata Mila
“Yaudah, gue maafin lo, tapi ada syaratnya. Lo harus nraktir gue makan bakso selama 1 bulan. Gimana ?? Kalau gak mau juga gak papa, tapi gue bakalan ngambek terus loooh.” kata Tasya
“Okee okee Sya, biar loe gak ngambek gue bakalan nraktir lo makan bakso selama 1 bulan. Okee.”kata Mila

Akhirnya mereka berdua pun berbaikan lagi. Sebenernya, dalam hati Tasya, dia penasaran dengan Reno. Tapi, dia malu sama Mila. Malu kalau Mila sampai tau kalau Tasya suka sama Reno.

Keesokan harinya....

“Tassyyyyyaaaaaaaaaaa. Bangun, lo gak sekolah apa ? Udah jam berapa nih ? Ya ampuun Tasya, banguuuuuuuuunnnn” teriak Kak Ita, kakak keempat Tasya.
“Apaan sih kak ? Gue masih ngantuk. Nanti aja banguninnya kenapa sih ? Udah sana pergi ahh.” Jawab Tasya dengan nada bermalas malasan untuk menjawab.
“Ya ampun Tasya, liat nih. Udah jam 07.00, lo nanti dimarain Bu Indah, mau ?” kata Kak Ita.
“Iya iya Kak, gue bangun. Ahh. Nyebelin banget sih lo kak.”kata Tasya.
“Tasya, kenapa ngomong kayak gitu sama kakak kamu ? Hah ? Mau belajar jadi gak sopan yah ?” kata Kak Sam, kakak Ketiga Tasya.
“Ya ampun. Iya iya, maafin gue kak. Gue telat nih, mau cepet cepet. Jangan diomelin mulu’.”kata Tasya


Keluarga Tasya, adalah keluarga besar. Dimulai dari kakak pertama dan keduanya yang kembar bernama, Raditya One Geyandra Putra (Adit) dan Reyhantya Two Geyandra Putra (Han) lalu kakak ketiganya yang bernama, Samantha Threehadi Ningsih (Sam), lalu kakak keempatnya yang bernama, Christhita Fouridina Kumalasari (Ita), dan yang terakhir adalah Natasya Five Nindry Dewi (Tasya).
Sedangkan Mila, sahabat Tasya memiliki keluarga besar juga, yaitu kakak pertamanya yang bernama, Sulung Putra Gandhi (Putra), lalu kakak keduanya yang bernama, Indah Dwi ayu (Indah), kakak ketiganya yang bernama, Trianha Setianingrum (Anha), lalu anak keempat yaitu Milanindia Fourina Khoirum (Mila), lalu adiknya anak kelima yang bernama, Ivia Fivewidia Nisa (Ivi), dan anak keenam yang bernama, Jefry Bagus Sixgandhi (Jefry).

Tasya emang suka banget telat bangun. Sampai kakak-kakaknya nyerah buat ngebangunin dia yang susaaaaaaaahhhh banget buat dibangunin.

Sesaat kemudian...

Bukk.!!!! Suara kaleng yang ditendang Tasya lagi-lagi mendarat dikepala Bu Indah.
“Hmm Hmm Hmm Hmm... Lagi-lagi Tasya, dasar anak badung” kata Bu Indah dalam hati.
“Maaf yah Bu, saya gak sengaja...” kata Tasya meminta maaf.
“Yasudah, sana pergi ke kelas.” kata Bu Indah ramah tak seperti biasanya.
“Kok Ibu gak marah sih? Ibu cape’ yah, ngadapin saya? Maaf deh, kalau gitu Bu, saya janji gak ngulangin lagi..” kata Tasya dengan muka yang dimelas-melasin.
“Gak kok. Ibu gak cape’ ngadapin kamu. Cuma Ibu lagi kurang enak badan aja. Ibu lagi males marah-marah. Apalagi sama kamu yang badungnya minta ampun. Yang ada mlah penyakit Ibu gak sembuh-sembuh lagi.. Sudah sana ke kelas.”kata Bu Indah.
“Yah Ibu, gak seru nih. Gak pake’ marah-marah. Yaudah deh, saya ke kelas yah Bu. Byee Ibu cantiik. :*” kata Tasya pada Bu Indah sambil berjalan meninggalkan Bu Indah.


Sesampainya di kelas...
“La, ngapain tuh anak ada dikelas kita..?” tanya Tasya kepada Mila yang heran melihat Reno ada didalam kelasnya dan menduduki bangkunya.
“Lo gak tau yah Sya? Dia kan udah dipindahin ke kelas kita..” kata Mila.
“Ohh. Terus, ngapain dia duduk di bangku gue??” tanya Tasya lagi.
“Hehehehh.. Gak tau tuh Reno. Dia bilang pengen duduk sebangku gue..” kata Mila.
“Iddiiiih. Enak bener hidup dia kalau kayak gitu. Dia pikir dia siapa.?!!!!! Anak baru aja belagu. Itu kan bangku gue, gue yang pertama kali nempatin. Dia dengan sekali datang langsung main ambil bangku gue. Awas aja yah..!!!!!!” kata Tasya sambil ngomel panjang lebar lalu mendatangi Reno..
“Sabar Sya, sabar. Nanti juga pindah sendiri dia. Dia bercanda aja kok mungkin..” kata Mila menenangkan Tasya.
“Allaaaaaah..!!! Dia kalau gak dimaki-maki gak bakalan pindah..!” kata Tasya sambil mendatangi Reno.


Lalu...
Braaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkk!!!! Suara meja yang dipukul Tasya. Tasya benar-benar marah kali ini.
“Heeh cewek bego’, ngapain lo mukul meja gue.?” Kata Reno sedikit marah juga.
“Heeh cowok sableng, lo yang ngapain, hah? Ini meja gue, bukan meja lo.!” Kata Tasya.
“Ohh yaa? Ini meja lo? Itu dulu, sekarang ini jadi meja gue.!!” Kata Reno.
“Enak aja yah lo.!! Udah jago lo?! Haah? Jangan mentang mentang lo cowok yah, lo pikir gue takut sama lo!!” kata Tasya.

Reno pun terdiam. Bukan karena dia takut pada Tasya. Tapi karena dia teringat pada perkataan Mila yang memberitahunya bahwa Tasya seperti ini karena dia kesepian ditinggal oleh kedua orang tuanya.

“Gue minta maaf Sya..” kata Reno tulus.
“Gue gak bakal yah, maafin lo!!! Ingat itu! Dasaar!! Gue benci sama lo Ren..! Gue benci sama semuanya.!!! Gue benci..!!!! Gak pernah ada orang yang bisa ngerti’in gue. Gue benci!!” kata Tasya dengan mata yang berkaca-kaca. Lalu dia berlari meninggalkan kelas.
“Tasyaaaaa.!!” Teriak Reno memanggil Tasya.


Laluu...

“Gue benci! Gue benci! Gue benci!!!!!!!!!” Teriak Tasya. Dia sekarang sedang berada di gedung belakang sekolah. Dia menangis sendirian disana

Dan tiba-tiba Reno datang menghampiri Tasya. Dia memang merasa bersalah pada Tasya. Dia ingin meminta maaf. Lalu. . . . .

“Tasya.” Panggil Reno
“Apa? Gak bosen-bosennya yah lo gangguin gue.” Jawab Tasya sambil menangis
“Gue minta maaf.” Kata Reno
“Mungkin maaf itu gak akan pernah cukup Ren. Lo tau, selama gue hidup, gak pernah ada orang yang suka sama gue. Bahkan kakak-kakak gue sendiri, gak pernah ada yang suka sama gue. Gue benci kayak gini Ren. Ditambah lagi sama sikap lo yang bikin gue tambah muak hidup didunia.” Jawab Tasya sambil menangis
“Gue gak bermaksud gitu Sya. Gue pikir, lo cewek yang asik. Gue coba deketin lo dengan cara kayak gitu. Gue gitu karena gue pengen deket sama lo Sya. Gak semua orang kok gak suka sama lo. Gue suka sama lo Sya. Suka banget, dari pertama gue liat lo. Lo mau gak, jadi pacar gue?” kata Reno yang mengagetkanku
“(kaget) gue gak salah denger?” jawabku
“(menggeleng) gak kok, lo mau jadi pacar gue?” kata Reno mengulangi pertanyaannya
“Sebenernya, gue juga suka sama lo Ren.” Jawab Tasya
“Jadi, lo mau gak?” tanya Reno
“(mengangguk) iya.” Jawab Tasya

Ternyata masih ada orang yang menyayangi Tasya. Betapa senangnya dia. Dia sadar, kalau Reno sebenarnya adalah orang yang baik. Terimakasih Tuhan, Engkau telah menurunkan seorang malaikat untukku.

=====*****=====

|T|H|A|N|K|'S| |F|O|R| |R|E|A|D|I|N|G|

Itulah Cerpen Cinta MALAIKAT UNTUK TASYA  Dari  Mimin Khoirum Widiawati

Profil Penulis

Nama : Mimin Khoirum Widiawati
TTL : Malang, 26 DEsember 1996
Sekolah : SMKN1 Bontang Kalimantan Timur
Alamat : Jalan RE MARTADINATA Loktuan, Bontang
Hobi : Menulis, Memasak, Tidur
Alamat Facebook : widicamutz@yahoo.co.id
Alamat Twitter : MiminKhoirum@yahoo.co.id


Punya Cerpen Juga Atau Puisi silahkan kirim ke blog ini dengan menuju link Kirim Tulisanku

Cerpen Cinta Karya Silvia

Cerpen Cinta Karya Silvia

Cerpen Cinta
Cerpen Cinta
Oleh : Silvia

Cerpen Cinta Karya Silvia
      Melamun bersama lagu Sheila On7 “ Buat Aku tersenyum” membuat aku terhanyut dalam suasana. Lamunan yang melayang jauh entah kemana, yang hanya tertuju pada satu jiwa yang telah berlabuh dihatiku. Jiwa yang akan menemaniku esok saat sendiri sepi seperti malam ini.
“Kring......Kring......Kring”
        Mendadak semua lamunan itu sirna dengan suara HP diatas kasurku. Suara hp yang memanggil-manggilku untuk segera mengangkat panggilan masuk. Telpon dari sebuah nomor asing yang tak aku kenal sebelumnya, ku hiraukan panggilan itu hingga berkali-kali, tapi tak kunjung berhenti juga suara hp-ku, hingga pikiranku berubah untuk mengangkat telponnya. Mungkin saja memang begitu penting.
“ hallo............”
        Serentak aku kaget mendengar suaranya, suara yang tak asing lagi di telingaku. Suara yang lama sekali tidak aku dengar semenjak aku memiliki kekasih baru yang akan menjadi suamiku. Hanya terdiam saat aku mendengarnya.
“hallo........” dengan suara gugup aku menjawab sapaannya
“Dina?” terdengar lagi suaranya memanggilku namaku
“Iya, ngapain telpon...?” jawabku dengan nada tinggi
“Kok cetus banget sich ngomongnya, emang kamu tahu siapa aku?” ngajak membuka pembicaraan.
“Udah dech gak perlu nyebutin nama, aku tahu kok siapa kamu. Ngapain telpon pakai nomer baru juga.!” Suaraku semakin tinggi
“pengen aja. Kangen sama kamu Din. Tau gak nomerku hilang, tapi cuma nomer kamu yang ada di ingatanku. Makanya aku sengaja telpon kamu, tapi malah kamunya jutek banget sich sekarang”. Mulai dech Adit ngrayu mencoba buat aku mau ngomong.
       Setelah sekian lama menghilang tanpa kabar, tiba-tiba ingin lagi datang. Dengan hati yang tak karu-karuan aku tetap dengan sabar mendengarkan omongannya. Sekaligus aku ungkapkan semua apa yang aku rasakan sebelumnya. Berharap unek-unek yang kupendam terbongkar semua dan aku benar-benar telah menghapus bayangnya dari dalam diriku. Sejenak aku terdiam, dan Adit terus berbicara tanpa henti.
“Din, kamu beneran mau nikah ya? Kok tega banget sich kamu sama aku. Aku tuch sayang banget sama kamu tapi kamunya gitu dengan mudah mencari yang lain selama aku pergi. Padahal aku jauh-jauh kesini ya cuma buat kamu nantinya kalo aku pulang”. Dengan nada yang sedikit kecewa adit mengungkapkan hal itu.
“Kamu gak usah sok-sokan pasang tampang kasihan gitu dech, aku juga dah tau kok kalo kamu juga distu udah punya tunangan, dan besok kamu pulang juga buat ngelangsungin acara pernikahannya. Jadi gak usah dech ngomongin hubungan kita lagi. Toh emang dari dulu kita juga gak pernah punya hubungan apa-apa kan?, pacaran juga belum pernah, sekedar teman juga gak.” Aku mencoba tuk menahan emosiku yang telah lama ada dalam hatiku.
Adit mengambil bicara untuk meluruskan apa yang aku sampaikan itu gak benar.
“Aku tuch kaget tau dengar kamu mau nikah, makanya tanpa berpikir panjang aku mutusin buat ngelamar cewek yang selama aku ada disini selalu disampingnku.”
“Itulah yang aku gak suka dari kamu, katanya bilang sayang sama aku. Tapi apa? Cuma omong kosong yang gak ada realitanya, kalo orang beneran sayang tuch gak mungkin pergi gitu aja tanpa kabar. Asal kamu tahu aku udah gak ingat kamu lagi kalo kamu gak telpon aku sekarang ini.” semakin panjang pula aku ngomongnya.
“Din jahat banget sich kamu” adit kembali merengek.
         “Kamu yang jahat tahu. Dimana aja kamu selama ini? Gak pernah nyadar apa jadi orang, emang dulu aku akui kalo aku begitu sayang sama kamu, saat kita jalan aku selalu berharap ada kata-kata yang akan kamu ungkapin buat aku. Tapi apa? Cuma angin doank.” Semakin kesal aku ngomong dengannya, tapi masih aku teruskan perbincangan itu.
          “Din kalo aku masih sayang sama kamu, kamu mau gak jadi isteri aku?” Adit melontarkan kata-kata yang gak aku tahu maksudnya. Cuma gombalan semata apa benar-benar Adit masih mengharapkanku.
“Gak” jawabku singkat.
          “Kenapa Din? Kamu beneran mau nikah ya? Kalo kamu mau nerima aku, hari ini juga aku bakalan pulang, dan aku akan menemui kedua orangtuamu. Aku akan batalin pernikahanku dengan calonku.” Adit terus berusaha tuk meyakinkanku.
     “Terlambat tahu!!!!!!kamu jadi cowok tuch gak punya perasaan banget sich, dimana otakmu. Kamu udah punya tungangan. Dan aku juga begitu. Semua udah aku persiapkan, termasuk hati aku. Aku udah nganggap kalo kita gak pernah kenal. Jadi mulai sekarang aku harap kamu lupakan aku, dan hiduplah dengan calon isterimu itu tanpa bayanganku”.
      Aku mencoba untuk mengambil bicara agar berakhir pembicaraan kita berdua, tapi hatiku masih ingin ngomong dengan lebih jelas dan sopan kepada Adit. Berharap agar Adit bisa terima dengan keadaan yang sesungguhnya, dan aku juga bisa menjalani hidup aku tanpa ada lagi bayang-bayang dirinya. Walaupun saat ini aku berstatus akan menjadi isteri orang tapi tak bisa dipungkiri kadang masa lalu datang pada waktu yang tidak tepat dan hanya akan menggoyahkan niat hati yang sudah diputuskan. Oleh karena itu, aku sebisa mungkin tidak terjebak dalam perbincangan kita berdua. Aku mencoba untuk menjelaskannya secara dewasa.
“Adit, udahlah gak usah kamu ngomong gitu. Besok bulan depan aku akan melangsungkan acara akad pernikahanku, mungkin ini terakhir kali kita ngobrol. Dan selamat ya buat kamu yang akan melangsungakan juga pernikahanmu sebelum tanggal pernikahanku”. Aku hanya mengisyaratkan agar Adit mau mengerti.
“Din, beneran dech aku lebih sayang sama kamu daripada sama calon isteriku, aku mohon Din batalkan acara pernikahanmu itu. Nikahlah denganku! Aku akan ngasih apapun yang kamu minta. Apa kamu tega sama calon isteriku, dia cuma jadi pelampiasanku atas kekecewaanku padamu”. Adit berbicara dengan terisak sedikit tangis yang ku dengar.
“Kita udah dewasa Dit, langkah apa yang harus kita ambil udah menghadang di depan mata kita. Mungkin ini jalan terbaik untuk aku dan kamu. Kita melangkah sendiri-sendiri bersama pasangan masing-masing. Semoga kamu paham” ocehanku yang begitu panjang mengakhiri telpon itu sebelum ku dengar kembali suara Adit.
       Harapan palsu yang pernah kamu berikan padaku hanya menjadi bumerang untuk dirimu sendiri. Dulu kamu selalu tega mengombang-ambingkan perasaanku yang semakin lama semakin mengharapakanmu. Tapi kini saat kutelah memiliki orang lain, kau ingin hadir kembali dalam kehidupanku. Bukan aku yang menginginkan hal itu, tapi kamu yang membuatku untuk jauh melupakanmu. Terlalu banyak hal yang sering membuat aku sakit hati darimu, terlalu banyak air mataku yang jatuh pula karena kamu.
24 Oktober, hari dimana akad pernikahanmu dilangsungkan. Tak ada sedikitpun rasa kecewa dihatiku. Tak kan ada isak tangis yang keluar dari bibirku mendengar kabar pernikahanmu itu. Karena aku memang telah lama menganggap tak pernah mengenalmu, dan tanggal 7 November aku juga akan melangsungkan pernikahanku. Jauh-jauh hari aku mempersiapkan semua demi kelancaran acaraku.
Allah itu maha adil, Dia menciptakan seseorang untuk aku dan kamu dalam waktu yang bisa dibilang bersamaan. Itu artinya Allah tidak menginginkan adanya kesedihan yang membuat salah satu dari kita sedih terpaku sendiri. Allah memberiku kebahagian dan Allah juga mendatangkan kebahagaian itu pula untukmu.

=====*****=====

|T|H|A|N|K|'S| |F|O|R| |R|E|A|D|I|N|G|

Itulah Cerpen Dari  Silvia

Profil Penulis

Nama : Silvia
Alamat : Wonosobo, Jawa Tengah
Email : candle_link@yahoo.com


Punya Cerpen Juga Atau Puisi silahkan kirim ke blog ini dengan menuju link Kirim Tulisanku

Cerpen Cinta - Hujanmu menghujamku

Cerpen Cinta - Hujanmu menghujamku

Cerpen Cinta - Hujanmu menghujamku
Oleh : Elmar Anugerah

Cerpen Sedih Elmar Anugerah

      Hujanmu menghujamku
Hujan,
Aku dan dia adalah insan dalam satu barisan.
Aku bergaris dia begitupun katanya.
Kau datang membawa hasrat rindu sedang terbang jadi randu.
***
Memang tak dapat ku elakkan lagi benakku terlanjur beranak parasmu. Semakin ku kembangkan lagi tarikan sudut bibirku saat itu. Dalam malam aku tuahkan sebutanmu sampai larut aku pejamkan tetap sama. Dia bersama waktu terus menghabis dengan peristiwa-peristiwa yang terekam selama 5 tahun menyalin sebuah jalin. Tapi entah halang bagiku kelak, hanya harap semakin kuat membawanya bersama duduk berikrar. Aku bergeming. Esok saat mentari mulai beranjak dari singgahannya akan kubuang rindu hati dalam ruang. Lalu terpejam.

sinar menyorot tajam dari sudut kaca jendelaku yang terbuka lebar dari tirainya lalu cepat  terhalau kedua telapak tanganku membenahkan penyinaran yang terlalu mengeksposku . Aku masih terbungkus rapih dengan selimutku berdiam sebentar melirik sedikit ke sudut meja yang berkedip. Terjelengkat duduk sembari  menyerngit segurat senyum setelah membaca notif BBM-ku.

Sekilas kupikirkan yang tak pernah terpikirkan, dia adalah kilasanku, selama aku menjalin apa yang ku nilai terhadapnya berbeda dengan notif yang ku tatap intens saat ini, tidak pernah dia merindu sampai kabar terdengar sebelum aku. Bahkan hujan sebelum terlelap aku baru melotarkan sebutanmu. Mungkin debit sayangnya bertambah tinggi berenda rindu yang bergulir dari waktu ke waktu.

“aku menunggumu.’’   Segera ku balas.

 ***

Malam mengahampar luas di altar langit dengan bintik-bintik berkilau yang menghamburnya, terabasan ombak berkejap-kejap memecah hening. semilir angin laut terus menghempas dingin sampai tulang rusuk hingga mendesir darahku. Pada hamparan pasir pantai sundak aku duduk menekuk lutut sampai tangan berpangku bahu terhadapku. Aku kira amora, padahal memang amora. Langsung mensejajari posisi singgahku.

Sekarang hening yang memecah riak ombak. Seperti baru saling mengenal terus mendalami keheningan. Sampai tidak terasa telah menyandarkan kepala. Berdua saling mengkhusukkan tatapan pada laut yang mengalunkan sebuah nada. Sebutanku hanya dijawab senandung sederhana.

“hmm?’’

“ada apa?’’ pertanyaanku direnggutnya kembali dalam diam. Malah seperti pertanyaan yang berbalik menghujamku. Aku semakin terjelma dalam keraguan. Lalu mencoba mencengkram kuat jemarinya.

“mas, aku minta putus.’’

Terngiang jelas di telingaku. Sontak mataku membulat. Aku benar-benar tidak memikirkan apa yang seharusnya aku pikirkan. Mungkin ruangnya tidak dapat menampung banyak debit kerinduan yang melumer atau ini bentuk luapan kerinduan yang membuncah?  Ku kira kita dapat menjadi kata. Tapi salah!

“ kenapa ra ?’’ timpalku tidak percaya.

Aku merengkuh bahunya terus menatap intens sampai manik matanya kini mulai berair.

“pesawatku take off pukul 08.15 aku menunggumu, aku harap kau mengantarku.’’ Kalimatnya lalu tangan membekap mulut menahan luapan tangisnya.

Sungguh aku tidak menduga garis ini. Dadaku serasa teriris tipis-tipis dengan sembilu paling tajam. Luka disana kian asin oleh angin laut yang mendesir lembut namun menyeretku dalam kerapuhan. Lidahku  kelu, tubuhku kaku, hatiku membeku. Detik demi detik menjadi menit dari menit ke menit hingga berjam-jam bahkan hampir setiap hari sampai 5 tahun lamanya hubunganku dapat kandas sia-sia bertukar asa.

Kini diam telah merenggut kehangatan. Berhadap ku kuatkan untuk menopang, melihat mata yang kini sayu terus merunduk  tak mampu membalas tatapan mataku. Lembar yang telah melebur bercampur isak merasuk dalam hati melumpuhkan olah pikirku. Belum sempat aku mengatakan sesuatu tapaknya meninggalkan jejak padaku.

aku mencoba menahannya ya aku sangat menjaganya, kutarik nafas dalam-dalam lalu aku hembuskan perlahan  namun nihil aku tidak bisa membendungnya, bulir-bulir air mataku jatuh, aku menangis sejadi-jadinya, jari-jemariku mengepal banyak butir pasir sekelilingku. Tak tahan aku ingin melepasnya, teriakan yang mampu mengurangi  kerapuhanku. Lalu dengan keras aku luapkan kemarahanku memecahkan keluh labuh dalam dadaku.

***
Pagi ini matahari tak melihatkan mentarinya. Berselimut hitam tebal bersama air yang bercucuran dengan derasnya. Tampaknya lembab seperti sembab pada mataku. Nampaknya semalam aku bermimpi buruk.
PING!! Terkesiap aku membaca pemberitahuan BBM-ku, malah aku mendengus kesal  pasalnya yang muncul hanya pesan tidak penting. Dia yang ku harapkan malah kabar bertiup entah kemana rimbanya.
Masih menunggu entah apa yang pasti. Sempat terhempas sebersit kecewa berdominan asa semakin meragukan langkah tidak melakukan tingkah. Kusakukan kembali ponselku lantas menekuri kesedihan yang kian jadi. Aku terkekeh saat menoreh pada detik yang berdinding, langsung mencari tapak yang dia jejakkan tanpa memperdulikan pakaian yang kukenakan tanpa memperdulikan derasnya hujan yang mengguyur.

Aku melaju dengan kecepatan melebihi rata-rata . Aku mengejar waktu tanpa memperdulikan keselamatanku, mencoba menahan langkahnya agar tingkah tidak jauh disana. Kembali kebahagiaan tidak memihak padaku, aku menghubungi ponselnya tapi tidak ada jawaban, message aku pun tidak dibalasnya, BBM-nya tidak aktif. Pikiranku kacau kulampiaskan pada pedal gas mobilku mempercepat kelajuan. Tiba lampu LED berkedip lalu bergegas membaca mention yang masuk pada account-ku.

‘’penerbangan Chicago.’’

Harapanku menipis terlekang waktu. Kumohon aku hanya ingin menjamah tangannya untuk terakhir ini, jika tidak aku harap dapat melihatnya melontarkan senyum sebagai salam perpisahan bagitupun aku. Sayang aku terlambat mencerna isi hatiku. Sedikit mengerang menahan sakit lantaran hantaman keras pada kepalanku.

***
Tiba pada Bandara Adi Sutjipto, Yogyakarta. Aku terus berlari sambil melihat sekelilingku. Tangan ku meremas di bagian dada dengan simbah air yang terus mengalir lewat celah bibirku. Berulang  menyebut kata Chicago  sambil menunjuk pada papan informasi penerbangan. hingga mendapatkannya kembali berlari mengejar waktu 5 menit. aku terus berpacu kencang menuju terminal D2 keberangkatan luar negeri.

senandung syahdu dari dadaku berdetak sangat kencang bak genderam mau perang. Agak merukukkan badanku dan mengatur nafasku sebentar . Sampai tatapanku sudah tak asing lagi pada langkah lamban gadis berkeperawakan tinggi dengan rambut menjuntai sebahu lalu berteriak lantang untuk menghentikan asumsinya. Gerak tubuhku di tahan sangat kuat saat aku memaksa ingin menerobos. Ketakutanku semakin melonjak melihatnya memasang headset pada telinganya lalu mengacuhkan histerisku dan semakin berlalu dari jauh pandangku.

Jejak-jejak resah aku tapaki merekahkan amarah yang menggeram. Tidak berhasil meredam gejolak di ulu hatiku. Aku berjalan gontai pada padang luas kemudian melemas hingga tak kuasa menopang berdiriku. Aku diterpa cerita yang menuntut derita. Pada luas apa bulir ini ku tadahkan, Pada lapang apa kepala ini ku sandarkan! Aku terus menghanyut dalam isak seketika ambruk serempak pada deras yang kembali mengguyur.

Hujan, hadirmu membasahi alamku
Debitmu berduyun membawa aliran tangis deras
Lewat sela mataku
Isak tak dapat ku bekap
Sesal terus menghujam
Kepal tak dapat ku eratkan lagi
Lutut hanya bersimpuh pada luas sekelilingku. Aku bergeming.

lampu LED kembali berkedip mengisyaratkanku segera membaca pemberitahuan yang ternyata hanyalah Broadcast message yang berbunyi :

"kau penunda suka menunda makalah sesal tak pernah tertunda."
Profil Tentang Penulis: Assalamualaikum WR. WB.

Hai teman-teman. Namaku Dahlil tiyas prabandari, aku duduk dibangku kelas x-1 SMAN4 Kab. Tangerang. Hobiku banyak salah satunya menulis saat senggang dan membaca sebagai informasi dan pelengkap bahan menulisku.

awalnya tidak kemudian sangat. Berikut kutipannya :

sambil berkutik pada soal latihan pelajaran matematika yang merenggut sisi humorisku saat itu. aku memaku pandangan pada perkataan yang tertera di layar ponsel via message dan mendengus kesal menyebut kata dengan istilah "ALAY" kataku. pada awalnya aya tidak menanggapi istimewa pada buku-buku yang banyak bercerita
Kata-kata rumit dan merumitkan ditambah lagi saya sangat memojokkan pelajaran bahasa Indonesia sedari dulu. Menyudut pandangkan seseorang yang sangat menekuri bacaan dan terlihat menyeret dalam jurang pertapaan yang semakin terbuat mendalami setiap inci dr sekecap kata yang tertuang membuat saya terpekik melihatnya sekaligus mati penasaran pada apa yang tercerna dalam pikiran mereka setelah membaca sampai tak sedikit seseorang berpuas dengan gelak tawanya hingga situasi melanklonis sangat tercipta sampai tersedu-sedu. saat itu hanya kata
"apaan sih!" sambil menyimpan banyak pertanyaan. Tiba-tiba temanku bercerita apa yang dia bayangkan tentang beratus lembar yang dia lahap sendirian. Lalu menawarkan pedaku untuk lebih mengetahui apa yang dituturkannya. Aku terima saja untuk menjawab pertanyaan yang beranak tanya pada benakku.

Hanya melihat covernya saja saya mulai menyukai. Saya mulai asik melahap bab demi bab sambil membayangkan tokoh itu adalah aku. Tentu saja novel remaja tentang percintaan. Bagaimana aku tidak terlarut dalam sajak-sajak yang menyelamiku dalam-dalam dan terhanyut pada lembarnya. Karena sangat menikmati dengan sehari saja aku bisa menghabiskan tiap-tiap tebalnya.
Setelahnya rasa keinginan besarku yang ingin membuat berita melebihi cerita yang kubaca kali pertama.

Awalnya hanya waktu yang kukejar dengan kepercayaan diri yang melebihi batas tampung untuk menyelesaikan ceritaku yang sangat singkay bahkan bisa disebut cerkat (cerita singkat) kataku. Alhasil pemikiran yang tertuah menjadi tulisan kali pertamaku yang berintikan cinta sejati itu tidak membuat para pembaca (reader) berekspresi seperti yang kulihat pada reaksi temanku. Tentulah kegagalan sangat membuatku menyebut kata asa.

Dering ponsel yang bertanda message masuk kembali membuatkuMenggariskan senyum kecutku, pasalnya kembali pesan dengan kata yang kusebut "alay" lagi mendatangiku. Berikut dengan karya tulisnya yang dia share padaku sampai aku mengagumi karena tokoh memakai artis favorite-ku ditambah penggunaan EYD yang benar membuatku semakin tertakjub. Hanya kata
"apa aku bisa seperti itu bahkan lebih, lalu kapan?"

sudah sekitar satu bukan aku belajar merakit kata demi kata yang aku bisa. keadaan musim yang sudah memasuki musim penghujan aku berselimut pada gelap malam menatap derasnya air berembun pada kaca jendelaku kemudian terlintas aku mendapatkan inspirasi Membuat cerita dengan kata 'hujan' lalu kukembangkan sampai teman-temanku benar-benar terkesan membacanya walau aku tau masih banyak penulis proporsional diluar sana. Kini dengan tanggapan dr salah satu kawanku yang sangat positif dan membangun menjadikanku lebih semangat dalam menulis dan membaca.

Waktu memang sangatlah berharga setiap detiknya. Asalkan melakukan hal yang positif seperti hal-nya menulis maupun membaca kita dapan mengetahui banyak variasi inspirasi yang tertores jadi tulisan. Dengan membaca kita mengenal dunia dengan menulis maka dunia mengenal kita. Jadi tetaplah menulis
waktu memang sangatlah berharga di tiap detik putarnya. Asalkan melakukan hal positif seperti hal-nya menulis maupun membaca kita dapat mengetahui banyak variasi inspirasi yang tertores jadi tulisan. Dengan membaca kita dapat mengenal dunia begitupun dengan menulis maka dunia mengenal kiya. Jadi menulislah apa yang kamu pikirkan walau hanya satu kalimat. Menulis, menulis, dan menuslah !

|T|H|A|N|K|'S| |F|O|R| |R|E|A|D|I|N|G|

Itulah Cerpen Dari  Elmar Anugerah

Alamat facebook :
Dahliltyas@yahoo.co.id
Alamat rumah :
Kompek asrama 203 . Kota tanggerang.
Maksih banyaaaak.
Tyas ;)


Punya Cerpen Juga Atau Puisi silahkan kirim ke blog ini dengan menuju link Kirim Tulisanku

Cerpen Romantis : Abadi Cintaku

Cerpen Romantis : Abadi Cintaku
Abadi Cintaku
Oleh : meviani murtiningsih
Pengarang : meviani murtiningsih
Jumat, 11 Januari 2013

        Aku memang pernah bermimpi dan mimpiku itu bersamamu. Aku memang pernah meminta dan yang aku minta adalah kamu. Aku juga ingin mencintai dan yang inginku cintai itu kamu. Berjuta-juta lelaki didunia ini tapi hanya kamu yang membuatku begini. Berjuta-juta yang datang tawarkan cinta tapi hanya kamu yang mampu meluluhkan hatiku. Setiap malam aku berdoa agar kau cintaiku. Setiap aku melihatmu mataku enggan berpaling. Entah mengapa hati ini selalu inginkanmu. Hati ini selalu ingin menghiasi setiap langkah kakimu. Dengarkan aku! Hati ini tulus mencintaimu. Bisakah kau rasakan besarnya rasa cintaku. Aku ingin kau tau rasa cinta yang tumbuh dihatiku ini. Aku ingin kau rasakan hangatnya kasih sayang dariku. Dengarkan aku! Aku cinta kamu lebih dari siapapun yang ada dihatimu saat ini.
            hai! Nama saya Nizta chaora veanezta, panggil aja saya Nizta. Sekarang saya duduk dibangku SMA disalah satu Sma ternama dikota saya. Banyak yang bermimpi sekolah di Sma yang sama masuki ini karena fasilitasnya yang sangat mewadai. Saya beruntung sekali bisa sekolah disekolah elit seperti itu. Sekarang saya kelas dua, selama satu tahun ini saya suka dengan seorang cowok namanya Gabriel samudra kirana. Kakak kelas saya itu selalu memberikan senyuman disetiap saya bertemu dengannya. Matanya itu  looooh..indah banget! Bukan saya saja yang ingin dekat dengannya.banyak teman-teman saya yang suka sama dia. Selain tampan dia adalah anak dari pemilik sekolah itu. Dia juga pintar, pernah beberapa kali saya diajari mengenai matematika dengan dia, karena kata guru saya dia adalah anak terpandai urusan matematika. Hari itu saya diajari mengenai dimensi tiga, memang tidak begitu sulit tapi ingin sekali saya menghabiskan waktu saya bersama dia.
“kak! Kalau yang ini gimana caranya?” ucapku pura-pura tak tau.
“ow yang ini, ini gini dengerin aku ya! Aku kasih rumusnya terus nanti coba dikerjain, gak sulit kok!” ucapnya pelan dan lembut.
“iyaa deh kak! Terus gimana?” ucapku sembari memandang dia. Hari itu cuaca mendung aku dan teman-temanku berada diperpustakaan. Memang jam pelajaran telah usai tapi kami masih saja asik berada disekolah. <


Setelah selesai mengerjakan soal yang kesekian kalinya saya pamit dengan kak Gabriel. Dan memberesi buku saya yang ada dimeja.
“kok Cuma kak Gabriel sih yang dipamitin! Kita gak ni?” ucap salah satu temenku iseng.
“aghh! Kok Nizta gitu sih?” ucap salah satu temanku lagi. Saya pun memandang kak Gabriel yang tersenyum-senyum sendiri. Wajahku memerah, saya merasakan itu.
“kok merah mukamu?” tanya kak Gabriel lalu mendekatiku. Saya hanya diam kemudian keluar dari ruangan itu tapi saya merasa aneh kak Gabriel mengikutiku sampai didepan gerbang sekolah. Hujan menghujur kami berdua.



“biar aku anter pulang ya? Ujan ni!” ucap kak Gabriel meminta.
“gak usah kak! Aku nunggu angkutan umum aja” ucapku menolak.
“udah biar aku anter! Ujannya deras gini, aku gak mau kamu sakit!”
“tapi kak!” bantahku mencoba menolak. Saya pun tak bisa menolak karena tangan kak Gabriel memengangi tanganku. Dan menarikku keparkiran. Dia mengambil motor varionya yang terparkir disebelah kiri jalan. Saya menunggunya dibagian kanan jalan. Hari itu hujan sangat lebat aku merasakan dingin yang sangat-sangat menembus bagian jantungku. Rasanya sakit sekali terlebih penyakit kankerku yang sebentar lagi akan menewaskanku.
“kok pucat gitu dek?” tanya kak Gabriel setelah mengambil motornya “buruan naik! Keburu hujannya semakin lebat!” tambahnya.
“iya” ucapku pelan sembari menahan rasa sakit. Tapi hujan semakin lebat dan lebat terpaksa kami harus berteduh dihalte dekat sekolah.
“kamu sakit ya dek?” ucap kak Gabriel khawatir.
“enggak kok kak! Cuma dingin aja” ucapku pura-pura.
“pake aja jaket aku dek, aku gak mau kamu sakit!” saya melihat kak Gabriel melepas jaket yang ia kenakan dan memakaikannya ditubuhku. Hujan mulai reda kami mulai lagi berjalan, sampai didepan rumahku aku mengucapkan trimakasih. Kak Gabriel pun mulai mengendarai motornya.
“hati-hati ya kak!” ucapku. Dia tersenyum manis padaku. Keesokan harinya saya tidak masuk sekolah karena kondisi saya yang tidak memungkinkan. Kata ibu saya, saya juga harus kedokter hari ini untuk cross cek penyakit saya. Saya sudah pasrah dengan apa yang terjadi pada saya suatu saat nanti. Saya juga sudah bahagia melihat orang lain disekitar saya tersenyum terutama kak Gabriel, dia juga sudah bersama kak Rozy yang cantik,baik,pintar dan dia juga anak dari salah satu orang yang mempunyai perusahaan terkenal dikota saya. Saya bahagia melihat kak Gabriel dan kak Rozy.
“adek!” sapa seseorang dibalik warna hitam. Saya kemudian membuka mata saya perlahan. Seperti mimpi ada kak Gabriel didepan mata saya. Saya mengusap kedua mata saya berharap kalau itu bukan mimpi dan memang benar itu buka mimpi.
“adek sakit ya! Kok gak bilang sama kakak?” ucap kak Gabriel sembari tersenyum. Saya pun hanya mengangguk “udah minum obat?” kali ini aku menggeleng.
“kok belum? Kamu minum obat dulu ya biar aku yang ambilin?ok!” ucap kak Gabriel dengan manjanya. Saya hanya mengangguk. Seharian ini kak Gabriel nemenin aku dirumah entah mengapa rasanya bahagia banget! Tapi gimana dengan kak Rozy?
            disebuah taman yang indah saya dan kak Gabriel menghabiskan waktu bersama. Setelah tiga hari ini dia menemaniku dalam sakitku.
“adek! Kamu tau gak kak Gabriel dari dulu pengen banget ajak seseorang yang kak Gabriel sayang ketempat ini!” ucap kak Gabriel menghancurkan lamunan saya “adek tu orang pertama yang kakak ajak kesini!” imbuh kak Gabriel sembari memandang danau yang sangat luas didepan mata kami.
“emang kakak gak pernah ngajak kak rozy kesini?” tanyaku sembari mengikuti pandangan kak Gabriel.
“kak rozy? Kak rozy itu cuma teman kakak adek!” jawab kak Gabriel memberikan harapan pada saya.
“masak sih kak! Kak Gabriel deket gitu, aku kira itu pacar kak Gabriel” ucapku menatap kak gabriel yang tertawa lepas.
“agh adek ini! Kak rozy itu cuma temen kakak percaya deh sama kakak! Adek, kenapa ya kakak ngerasa beda sama adek? Kakak pengen banget jagain adek! Kakak pengen selalu deket sama adek, adek mau gak jadi pacar kakak?” tanya kak Gabriel dengan nada keseriusan. Sejenak saya terpaku, seorang Gabriel yang selama ini jadi pacar dalam mimpi saya sekarang dia ada dihadapan saya mengutarakan kata hatinya. Rasanya hanya mimpi yang tidak mungkin untuk saya.
“kak Gabriel serius?” ucapku menyakinkan hatiku.
“iyaa adek kakak serius! Janji deh gak bakalan nyakitin adek! Kakak udah sayang sama kamu dek” ucapnya.
“iya kak aku mau kok! Tapi janji ya jangan sakiti adek” ucapku penuh harap.
“beneran ya? Masak sih gadis semanis kamu mau kakak sakitin gak tega donk!”
“iyaa iya”
            Hari itu memang hari yang paling indah dalam hidupku. Tak kusangka akan begini ceritanya. Setiap hari kak Gabriel selalu menemaniku. Entah lewat telfon, sms dan jalan bareng. Dia juga sering mengantarkan saya pulang. Sebuah kebahagiaan yang pernah saya rasakan saat ini.
“adekku sayang! Nanti kak Gabriel gak bisa nemenin kamu ya?”
“emang kakak mau kemana?”
“kakak diajak nonton balap sama kak Gilang”
“jadi aku ditinggal sendirian ni kak! Ah kakak jahat!”
“Cuma bentar kok dek!”
“iyaa deh terserah kakak ajaa”
“adek gak marah kan?”
“enggak kok kak!”
            kak Gabriel pun berpamitan pulang sembari mencium keningku.
“kakak nanti gak boleh nakal yaa?” pesanku pada kak Gabriel.
“iyaa dek kakak janji sama adek!”
            Malam ini malam minggu, saya menatap jendela kamar saya. Angin malam meniup-niup kain yang menutupi jendela kamar saya. Saya pun berjalan menuju arah jendela saya. Saya membuka kain itu dan menatap kearah bulan sabit yang bersinar terang. Banyak bintang dilangit menambah sepinya malam ini. Tiba-tiba jantungku terasa sakit. Saya memanggil ibu saya dengan nada lirih dan berharap ibu saya mendengar panggilan saya.
“sayang kamu kenapa?” tanya ibu saya khawatir.
“gak papa kok buk!” kataku menahan rasa sakitku.
“sayang kita kerumah sakit sekarang ya! Dek brian dirawat dirumah sakit dia panggilin nama kamu dari tadi”
“dek Brian buk? Sakit apa?”
“katanya kangen sama kamu sayang! Sampai sakit gitu, yaa udah sekarang sayang ganti pakaian ibuk tunggu dibawah ya?”
            saya hanya mengangguk dan berjalan kearah lemari pakaian saya. Malam ini aku  kenakan baju kesayanganku, aku sangat menyukai warnanya. Warna pink! Yaa itu memang warna kesukaan saya.
“cantik banget anak ibuk malam ini” puji ibu padaku. Saya berjalan menuju mobil ayah. Ayah sudah menunggu disana.
“waah! Anak ayah gelis pisan” puji ayah, dan masih sama aku hanya terdiam.

            “gamb! Gamb sayang kenapa?” tanyaku pada dek brian yang terbaring disebuah ruangan..
“gamb kangen sama kak Cha! Kok kakak gak pernah main kerumah gamb sekarang?” ucap adek kecewa. Gamb itu nama panggilan saya sama adek brian.
“maaf yaa gamb! Tapi kak cha sibuk bukan karna gak sayang sama adek...udah sekarang kan kak cha ada disamping gamb, gamb mau minta apa sama kak cha?”
“janji kak cha mau turutin gamb?”
“iya janji”
“kak cha temenin gamb ya? Gamb gak mau ditinggalin kak cha lagi!”
“iya gamb! Ya udah, gamb sayang bobok yaa..kak cha temenin gamb deh!”
            Saat gamb mulai terlelap suara handphone saya berbunyi dan membangunkan gamb. Gamb menarik tanganku dan mendekatkan didadanya.
“kak cha mau kemana?”
“bentar yaa gamb, kak cha angkat telfon bentar! Gamb gak boleh nakal kak cha cuma bentar janji deh!
 saya kemudian berjalan keluar dari ruangan gamb ternyata kak Gabriel yang telfon.
“halooo”
“yang! Aku kecelakaan ni”
“apa? Terus sayang sekarang dimana?”
“aku masih ditempat kejadian sayang! Sakit banget ni, sayang bisa kesini gak?”
“eee......maaf yaa yang! tapi aku aja masih dirumah sakit, adek kangen sama aku! Aku juga udah janji gak akan ninggalin adek” telfon terputus hatiku jadi tak menentu semuanya berubah menjadi neraka. Saya bimbang apa yang harus saya lakukan. Kedua orang yang saya sayang kini sedang terbaring lemah dan butuh saya. Saya berjalan memasuki ruangan dek gamb. Lengkungan manis muncul dari bibirnya. Tak henti pula saya sms kak Gabriel tapi tidak satupun yang dibalas. Hati saya jadi kacau takut terjadi apa-apa sama kak Gabriel. Tapi handphone saya kini berdering “1 message”.
GabrieL : aq sekarng udah dirumah ynx..!!!
hatiku yang kacau kini menjadi tenang.
niZtha : trus cyanx gimna?? Cyanx baix2 aja kan??
GabrieL : mukaku rusak ynx..
psti cyanx putusin ak kalau udah lihat ak..
niZtha: cyanx kok ngomng gitu sih??adex thu tlus sama kakak..
adx benrn sayang sama kakak.
GabrieL : tapi muka kakak rusak adx..
niZtha : Kakak..adx tulus sama kakak..
adx cinta sama kakak..!!!
GabrieL  : maksh ya ynx..mafn ak ya!
Egois bangt ninggalin cynx yg kgen sma kakak..
tdi kakak fkir itu hari terakhir kakak ktmu sama adx..
kkak udh pnya firasat kaya gtu dx..!!
niZtha : kakak kok ngmng gtu sih..jangn bikin adx sdih gni donk..!
adx jdi mikirin kakak truz nie..kakak jgn ngmng gtu lgi yaa..
adx gak mau khilangan kakak..adx cinta sama kakak..
GabrieL : iyaa cyanx..kak GabrieL jga cyanx sama cha..hehehe
jngan sdih yaa cynxx..gak ush nngiz..ak gkpp koq..
niZtha : janji yaa! Cynx jgn tingglin ak..
Gabriel : iyaa cyanx..bobok gih, udah mlem..!!
niZtha : yaa udah ya..ak bbok dulu ynx..cyanx cpat cmbuh yaa!!
dek cha..doain kakak terus....!!!
***
            hari ini hari senin, tapi upacara bendera tidak diadakan hanya ada apel pagi untuk hari ini. Mataku menatap sekeliling berharap bisa menatap kak GabrieL. Tapi nihil hasilnya kak gabriel gak ada disegerombolan teman-temannya. Saya kemudian menatap adek kelas saya kebetulan dia dekat dengan kak gabriel. Matanya mengisyaratkan kesedihan, dari kejauhan aku berbisik menanyakan kabar kak gabriel yang katanya dia mengalami luka parah tapi tetap masuk. Jam istirahat kedua berbunyi saya mulai keluar dari lab LEC (language english club). Saya berjalan menuju kelas saya, kebetulan sebelum kelas saya melewati kelas kak gabriel. Saya memandang kearah ruangan kelasnya tapi nihil hasilnya. “aku kangen sama kamu kakak” desahku dalam hati.
            satu minggu ini saya tidak melihat kak gabriel, rasanya udah kangen banget! Hanya perbincangan lewat telfon dan sms. Dikelas saya hanya melamun, memikirkan kak Gabriel.
“Niztaa!” panggil seorang cowok dari luar. Saya pun menoleh pada cowok itu. Deg! Jantungku berdetak dengan kencang, lalu tiba-tiba sakit sekali. Pandanganku mulai buram, buram, lalu hitam. Sebelum itu saya fikir itu kak Gabriel. Tapi wajahnya rusak karena luka.
“sayang! Kamu udah bangun?”
“aku dimana buk?”
“kamu dirumah sakit sayang..sudah satu minggu kamu gak sadarkan diri!”
“penyakitku udah parah ya buk?”
“sayang! Sayang tenang aja..sayang pasti sembuh kok..!”
            air mata menetes dipipi saya. Seakan saya sudah tidak kuat menjalani hidup saya ini. Hampir sembilan bulan hubungan saya dengan kak Gabriel dan rasa sayang saya tidak pernah berkurang untuknya.
“ibuk..Nizta udah gak kuat!”
“sayang jangan ngomong gitu! Sayang pasti kuat..ya!!”
“kak chaa..kak chaa..jangan tinggalin gamb yaaa..gamb sayang kak chaa..”
“adex kecil kakak yang manis..adek kan bentar lagi SD..belajar yang rajin yaa! Kak cha bakalan bangga kalau adek bisa jadi juara”
“adek sayang kak chaaa...kak chaa kuat yaa!”
            tau apa sih anak seperti dek Brian..anak kecil yang belum tau apa-apa itu membuatku menangis. Saya bangga punya dek gamb.
“kak chaa jangan takut..ada adek gamb yang jagain kak chaa..kak cha tenang aja yaaa!”
“iyaa adex gamb sayang! Buk..kak Gabriel mana?”
“baru aja pulang sayang..dia ninggalin ini buat kamu!”
“surat? Sepotong coklat? Adek gamb mau?”
“enggak akak chaa..td aku juga dikasih oklat sama kak abriel.!”
            Saya mulai membuka surat itu

KENANGAN MENYEDIHKAN DI MALAM MINGGUKenangan yang meninggalkan luka teramat dalam dikala aku tersungkur yang kedua kalinya,aku sangat egois meninggalkan kekacihku yang teramat merindukanku namun aku malah meninggalkannya....akibatnya aku tersungkur kembali,malu rasanya,namun semua berlalu begitu seperti mimpi didalam tidur,aku beranjak pulang dengan rasa sakitku ,semua panik ketika aku sampai dirumah,Ibuku menangs melihat mukaku penuh dengan darah,ketika aku terbaring ku kabarkan kepada kekasihku yang kecewa aku tinggalkan.Ia seakan tak percaya ketika aku kabari semua tentangku,aku seakan putus asa dengan keadaanku namun ia dengan kasih sayangnya terus memberiku semangat dan motifasi,dimalam itu seakan aku menemukan kasih sayang yang tulus dan abadi,ia selalu temani aku dengan kasih sayananya,semoga ia dapat terus temani aku tuk jalani kehidupan ini dan sama-sama membangun kasih sayang yang kekal dan abadi...........CAYANXMU GabrieL.......GOODLUCK

Tak terasa air mataku menetes dengan derasnya. Saya rindu dengan kak Gabriel. Saya sayang sama kak Gabriel. Saya tulus mencintai  kak Gabriel.
“ibuk! Aku pengen bicara sama kak Gabriel?”
“nanti dia mau kesini sayang! Sayang istirahat aja yaa!”
“iyaa buk”
Hampir pukul tujuh malam tapi kak Gabriel tak juga datang. Hatiku resah dan jadi tak menentu. Saya bilang sama ibuk kalau nanti kak Gabriel menjengguk saya ibuk akan membangunkan saya. Ketika itu saya mulai memejamkan mata saya dan mulai terlelap dalam mimpi tidur saya. Tapi nihil sampai pagi kak Gabriel tak datang. Ada perubahan dari dia entah apa itu! Seharian ini saya mencoba menelfon dia tapi tidak diangkat. Saya juga mengirim pesan tapi tak ada balasan.
satu minggu kemudian
“sayang kamu lupain kak Gabriel aja yaa?”
“loh kok gitu buk?”
“satu minggu waktu kamu gak sadarkan diri kamu, kak Gabriel selalu jagain kamu! Sampai dia gak belajar...kemaren nilainya menurun drastis..ayahnya dateng kesini dia marah marah sama ibuk dan  ayah..sayang lupain dia aja yaa?”
“ta ta ta pi buk!”
“sayang..kamu sayang sama kak Gabriel gak?”
“iya buk!”
“kalau gitu sayang lupain dia ya? Masih banyak cowok yang lebih baik dari kak Gabriel”
            andai ibuk tau selama ini yang saya cintai hanya kak Gabriel. Disaat detik-detik terakhir saya pun saya harus mengalah. Kenapa? Kenapa ini tak adil? saya juga ingin merasakan cinta. Selama ini saya hanya mencintai satu orang, tapi kenapa disaat saya membutuhkannya saya harus melupakannya. Masih bisakah saya lalui hari saya tanpamu kak Gabriel? Dengarkan aku! saya sangat mencintaimu.
***
empat bulan kemudian
            saya masih bertahan disisa hidup saya ini. Hari-hari saya lalui dengan senyuman meski terkadang sakit menusuk jantung saya . Disuatu pagi saya melihat kak Gilang dikantin sekolah. Saya menghampirinya dengan langkah kaki ragu.
“kak Gilang!”
“ehh dek Niztaa? Ada apa dek?”
“enggak kok kak! Cuma pengen tanya soal kak Gabriel...hehe”
“ow Gabriel? Dia sekarang banyak murungnya...emang baru ada konflik ya dek?”
“ya gitu kak..salam aja ya buat kak Gabriel?”
“salam apa ni dek?”
“eeee........salam kangen gitu ya kak!”
“ok adek..kak Gabriel udah ganteng lagi loh dek!”
“loh! Emang kemaren gak ganteng ya kak?”
“kan  kemaren dia luka parah dek..adek juga tau kan?”
“ow!”
***
Sehari setelah itu aku melihat kak Gilang menghampiriku yang sedang asik ngobrol dengan teman-temanku didepan ruang kelasku. Soal apa lagi kalau bukan tentang soal-soal yang sulit buat dikerjakan.
“boleh pinjem Nizta bentar gak?”
“ow! Boleh-boleh kak! Tapi balikinnya utuh yaa?”
“hust..kalian apa-apaan sih? Ee..bentar yaa!”
            jawabku menghampiri kak Gilang
“ngomongnya jangan disini..dikantin aja yuk!”
“iya deh kak!”
            kami bergegas menuju kantin. Saya tak sabar ingin dengar tentang kak Gabriel. Saya sudah sangat rindu dengan kak Gabriel. Memang pernah sekali dua kali saya melihat kak Gabriel tapi karna keadaan yang tidak mendukung saya tidak pernah menyapa ataupun tersenyum pada kak Gabriel. Kak Gabriel pun sama seperti itu, seperti orang yang tidak pernah bertemu bahkan tidak pernah mengenal. Hanya sebagai orang asing dalam hidupnya!
“dia titip ini buat kamu?”
“surat lagi? Dan masih sama dengan sepotong coklat!”
“aku juga gak tau..ow ya! Dimakan donk..takut mubazir.!”
“he..iya iya kak! Nanti aku habisin kok”
“adek kalau senyum manis banget sih?”
“ahh kakak bisa aja!”
            sesampainya didalam kelas saya mulai membuka surat itu. Tidak tau apa yang sedang saya rasakan saat ini.

To : bidadari kecilku
Nizta sayang..maafin kak Gabriel ya! Bukannya kak Gabriel gak sayang sama
Nizta..kakak masih sayang sama Nizta..tapi buat sekarang kakak gak bisa berbuat apa-apa! Nizta percaya sama kakak..hati kakak Cuma buat Niztaa..
            Niztaa bertahan ya buat kakak..kita pasti bisa lalui ini..

GabrieL
***
Niztha janji akan jaga hati Nizta buat kakak! Niztaa sayang kakak! Seutuhnya hati ini buat kakak..selamanya kak! Batinku dalam hati.
            detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari dan haripun berganti bulan. Kak Gabriel tetap tidak disamping saya. Sedih rasanya tapi mau gimana lagi. Saya sangat sayang sama kak Gabriel saya juga sangat cinta dengan kak Gabriel. Hari ini hari kelulusan kelas dua belas. Semalaman aku berdoa buat kak Gabriel. Dihari itu aku melihat kak Gabriel sedang digerumbuni cewek-cewek disekolahku. Jujur cemburu yang saya rasakan saat ini. Mata itu menatap saya, saya pun mencoba berpaling dan pergi menjauh dari pandangannya. Kenapa rasanya jadi benci gini sih??? Tanyaku dalam hati.
“Niz! Loe ntar dateng kan?”
“kemana?”
“pura-pura gak tau nii! Ntar kan ada pesta dirumah kak Gabriel katanya sih buat ngrayain kelulusan kak Gabriel gitu..semua siswa diundang kali Niz!”
“owh!” ucapku malas. Kenapa kak Gabriel setega ini? Apakah dia sudah benci padaku. Apakah dia sudah menghapus semua tentang aku dihidupnya? Kenapa kak Gabriel lakukan ini pada saya? Apa salah saya sampai kak Gabriel kaya gini? Kembalinya saya disekolah sepertinya semakin membuat buruk keadaan saya. Saya semakin hari semakin layu dan semakin rapuh. Sekarang saya dirawat inap disebuah rumah sakit yang sangat besar dikota ini, entah berapa uang yang sudah dikeluarkan ayah untuk mengobati penyakit saya. Terdengar suara sayup-sayup dikuping saya, aku fikir itu suara ayah tapi dengan siapa.
“ápakah anda fikir saya tidak bisa beli sekolah yang bapak punya? ini bukan masalah materi! Anda tau anak saya sekarang sedang dalam kondisi kritis...hanya anak bapak yang membuat anak saya kembali seperti dulu!” ucap ayahku.
“semua orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya pak? Anda juga begitu kan pak?” jawab orang itu.
“seegois itukah bapak? Coba anda fikirkan kalau yang terbaring diruangan itu anak bapak..apakah bapak akan setega ini?”
“maaf pak! Saya harus pergi sekarang”
            kembali air mataku menetes. Ayah kemudian memasuki ruangan.
“ayah!” panggilku pelan dengan air mata.
“sayang! Kenapa nangis?” tanya ayah padaku.
“ayah..jangan ganggu kehidupan kak Gabriel dan keluarganya, nizta janji ayah! bakalan lupain kak gabriel” ucapku berbohong, karena saya tau kalau saya tidak akan pernah bisa melupakan kak Gabriel.
“iya sayang! Udah sekarang sayang istirahat yaa?” ucap ayah sembari mencium keningku. Lalu saya memejamkan mata saya. Suara dek Brian terdengar didendang kuping saya, tapi saya terlalu capek dan menghiraukan dek brian. Selama berbulan-bulan saya lalui tanpa kak Gabriel. Jujur sakit banget, hampa banget! Sepi banget!
            pernah saya dekat dengan seorang cowok disekolah saya, memang aku akui dia cakep tapi dia sama sekali tidak bisa merebut hati saya. Entah mengapa bayangan kak Gabriel selalu menghiasi hati saya. Mengganggu setiap langkah kaki saya. Setiap saya melakukan sesuatu selalu ada kak Gabriel. Sesakit-sakitnya saya karna kak Gabriel saya tidak pernah sedikitpun punya rasa benci sama kakak. Karna mungkin cinta yang membuat saya seperti ini, karna mungkin saya tulus mencintai dan menyayangi kakak. Kakak trimakasih untuk semua kebahagiaan yang telah kau berikan untukku.
            Kata temanku sekarang kak Gabriel sekolah di Universitas Nusa Bangsa (UNB). Sekolah yang cukup elit, saya pun berjanji pada diri saya kalau setelah dari sekolah ini saya akan masuk kesekolah itu. Dan memang benar sekarang saya satu kampus dengan kak Gabriel. Kebetulan pula kemarin saya lulus dengan nilai terbaik saya selain saya mendapat juara satu, saya juga mendapatkan hadiah khusus dari guru bahasa inggris saya dikarenakan saya mendapatkan angka sempurna...yaaa! berapa lagi kalau bukan sepuluh. Disini saya mengambil jurusan Multimedia, sedangkan kak Gabriel mengambil jurusan Akutansi. Yaaa! Sesuai dengan bakatlah..memang kak Gabriel sudah berubah tapi hati saya selalu memilih dia, selalu ingin tau tentang kabar dia..!
“Ut....gue pulang dulu ya?” ucapku pada temanku Uut.
“ow! Iyaa Niz..hati-hati ya!” sahut uut. Saya hanya mengangguk dan melangkah keluar dari ruangan saya. Saya berjalan melewati koridor-koridor kampus. Mata saya tertuju pada seorang cewek dan cowok diUks sedang asik mengobrol lalu mereka berdua keluar dari Uks. Mata saya masih mengikuti langkah kaki mereka. Mengikat lekat setiap gerak gerik mereka. Hati saya sakit, saya begitu iri dengan gadis itu. Air mata mulai bercucuran dipipi saya. Perut saya tiba-tiba sakit. Dan jantung saya pun begitu. Pandangan saya mulai buram, buram kemudian gelap.
            rasanya saya sudah pernah merasakan ini.
“udah bangun Niz?” ucap seorang lelaki didepan mataku.
“aku dimana?” tanyaku memandang ruangan itu.
“kamu masih dikampus..tadi kamu pingsan! Kamu sakit ya Niz?” ucap seseorang itu, setelah saya mengusap kedua mata saya, saya baru sadar kalau itu kak Gilang.
“owh!” saya kemudian memandang sekeliling dan mata saya tertuju pada kedua orang tadi. Sakit! Sangat-sangat sakit. Air mata kembali bercucuran dipipi saya. Saya mencoba bangkit dan berjalan menghampiri kedua orang itu. Tadinya kak Gilang melarangku untuk bangun, tapi saya memaksa dan akhirnya diizinkan sembari mengikutiku dari belakang.
“kak Gabriel?” panggilku dengan air mata “kenapa kakak setega ini? Kenapa kakak gak pernah peduli dengan aku? Kakak udah bohong sama aku? Kakak jahat!” ucapku dengan isak tangis. Dia hanya terdiam dengan memandangku lekat. Terlihat diwajahnya sebuah kesedihan yang sama.
“kenapa kakak diam? Kakak udah bohongin aku...kakak tau gak! Sebenar lagi, mungkin aku udah gak disini...tapi kenapa kakak kaya gini?” ucapku sembari menghapus air mata dipipiku.
“apa maksut kamu dek?” ucap kak Gabriel setelah dia terdiam beberapa menit yang lalu.
“aku terkena penyakit kanker kak...sebentar lagi aku mati..apakah kakak pernah tanyakan keadaanku? Gak kan? Kakak cuma bilang kalau kakak sayang aku..tapi apa buktinya kak? Kakak malah tinggalin aku tanpa pamit..dan sekarang kakak malah sama cewek ini” ucapku dengan isak tangis yang semakin menjadi-jadi. Pandanganku mulai buram, semakin buram lalu gelap.
“adek...bangun dek..maafin kakak!” ucap suara lelaki sayup-sayup didendang telinganku. Saya mencoba membuka mata saya tapi nihil. Setiap pagi saya mendengar suara seorang wanita membaca al-Qur’an dan itu membuat hati saya tenang meskipun hanya terdengar sayup-sayup didendang telinga saya. Setiap kali saya mencoba membuka mata saya tapi semuanya terasa berat. Apakah ini sudah waktunya?
“dek chaa..bangun donk, kakak disini dek..kakak tepatin janji kakak!” ucap seorang lelaki penuh harap dan ketulusan. Perlahan-lahan saya membuka mata saya menatap seorang lelaki yang ada didepan mata saya. Saat ini rasanya saya sudah tidak kuat lagi.
“ibuk!” panggilku pelan.
“iyaa sayang ibuk disini..” ucap ibuku sembari mencium tangan saya dan memeganginya erat.
“nizthaa udah gak kuat buk!” ucapku lirih.
“iyaa sayang iyaa! Gak papa kok sayang..” ucap ibuku dengan air mata.
“nizthaa bahagia punya ibuk dan ayah....niztha sayang sama ibuk sama ayah..”
“sayang ibuk udah rela sekarang..ibuk gakpapa, kalau sayang udah gak kuat lagi..sayang! kamu udah cukup bikin ibuk dan ayah bahagia..bikin ibuk dan ayah bangga”
“ibuk..titip dek gamb yaa!” suaraku mulai tak terdengar, tapi saya belum mengungkapkan isi hati saya untuk seorang yang sedang murung disamping saya. Saya mencoba untuk mengucapkan kata-kata itu.
“kak Gabriel” panggilku.
“iyaaa dek chaa?” ucap kak Gabriel lesu “maafin kak Gabriel yaa! Kak Gabriel gak seperti apa yang dek cha fikir..kak Gabriel gak pernah jatuh cinta, selain sama dek chaa..mereka hanya sebatas teman kak Gabriel..kak Gabriel gak pernah menjalin hubungan setelah kak Gabriel jauh dari dek chaa..pernah kak Gabriel pengen nemuin dek chaa..tapi ayah nglarang kak Gabriel, Kakak pun gak berani membantah..sekarang ayah udah izinin kakak dek..dek chaa kuat yaa! Kita lalui kaya dulu lagi yaa dek..” ucap kak Gabriel memohon. Saya pun membalasnya dengan senyuman.
“maafin dek chaa ya kak! Dek chaa sayang kakak..sampai kapanpun” ucapku menahan rasa sakitku.
“dek chaa kuat kok..buat kakak!” pinta kak Gabriel.
“jaga diri kakak baik-baik yaa! Dek chaa bahagia punya kakak..dek chaa seneng banget bisa sedeket ini dengan kakak..i love you kak!”
“iyaa dek i love you too” ucap kak Gabriel dengan air mata dan mencium tanganku. Tidak saya sangka sesosok Gabriel menangis untuk saya. Kemudian rasa sakit saya mulai hilang, suara isak tangis menghantarkan kepergian saya.

*The END****
|T|H|A|N|K|'S| |F|O|R| |R|E|A|D|I|N|G|

Profil Penulis

nama : meviani murtiningsih
facebook : meviani sizuka shee'khabibiQolbi
tanggal : 11 januari 2013
email : mheviiecuitcuiit@yahoo.co.id

Itulah Cerpen Dari  meviani murtiningsih  dengan judul "Abadi Cintaku" .
Punya Cerpen Juga Atau Puisi silahkan kirim ke blog ini dengan menuju link Kirim Cerpen

Cerpen Romantis : Bunga yang Telah Layu Hingga Kini Kembali Subur

Bunga yang Telah Layu Hingga Kini Kembali Subur
Oleh : Media perianti
Kamis, 6 Desember 2012


               Dengang langkah cepat aku kembali menelusuri lorong menuju kelas baruku hamper tak satu pun maklhuk yang tampak….tentu saja bel masuk telah berbunyi 10 menit yang lalu,gara-gara nonton filem bagus tadi malam bangun jadi kesiangan dan akhirnya jadi terlambat. Malah hari ini hari pertma ku menduduki bangku kelas II sma. Aku hanya berharap semoga guru yang masuk ke kelas ku bukan guru yang galak…………

               Selamat pagi sayanggg….. santapan mesra sudah ku terima sepagi itu. Sebuah kepala muncul dari balik pintu salah satu kelas yang terbuka.

            Pagi, duluan ya,elok ku halus..!!enggan rasanya melayani pria ini agak aneh bicaranya lagian aku tidak terlalu mengenalnya, tapi dia menarik tangan ku dari belakang, dan dia eh bulu mata kamu bagus dech, aku menatapnya dengan sebal, ini lah yang tidak ku sukai dari pria ini, yang mengngatkan  sama milik ku yang tak aku ingginkan. Bulu mata ku yang panjang tebal dan lentik walaupun banyak orang yang memujinya tapi aku tidak menyukainya, terkadng aku menyesal mengapa aku tidak seperti saudara-saudara mempunyai bulu mata yang sederhana.

              ****

              Dan cepat-cepat ku melangkahkan kaki ku tak lansung lama aku menbrak seorang pria maaf seru ku buru-buru pada seorang pria yang memunguti bukunya berjatuhan. Tidak apa-apa bukan kamu yang salah …kebetulan suara itu ketika pria itu selesai memunguti bukunya dan kemudian dia melihat ku , dan entah kenapa aku merasa kalau makhluk itu menatapku dengan dengan mata tak suka. Padahal tadi suaraya terdengar ramah, aku heran pria itu meninggalkan ku tampa permisi. Apakah dia marah??? Dahi ku mengeryit, aku merasa aku tidak pernah mengenali wajah asing itu….. padahal aku sudah satu tahun berada di sekolah ini, dan berate seharusnya aku sudah mengenali atau paling tidak aku mengetahui wajah itu.

            Kalau pria ini memang bukan anak baru “aku bingung” kemudian aku bersegera kembali untuk buru-buru untuk mempercepat langgkah ku, setiba  di depan kelas aku pun mengetu pintu semua siswa didalam kelas terdiam memandang kearah ku. Kemudian guru di depan kelas menyuruh ku untuk duduk dibangku no 2 dari depan, dan ternyata pria berwajah asing itu adalah teman sebangku ku. Astaga cowok itu menatap ku sinis……

           Sudah beberapa hari aku duduk di kelas II sebetulnya semua teman-teman ku baik hati, ramah,dan akhir-akhir ini sudah terbiasa dengan ku. Bahkan mereka banyak yang melibatkan ku kegiatan sekolah seperti kultun , upacara dan sebagainya, hanya saja pria yang berwajah asing dan menjengkelkan itu tetap memusuhi ku, dalam setiap kesempatan bila kami bertemu selalu saja mengejek ku dan pasti itu menyakut diri ku yang berbeda dengan saudara ku yang lain, gadis mascara smbutan itu selalu dilontarkan kepada ku, sehingga aku sangat benci mendengarnya.

           Kalau sudah begitu ingin sekali rasanyaku untuk tidak masuk sekolah lagi, dan ingin bersegera untuk pulang kampung berkumpul bersama keluarga ku….

          Dari lahir aku hanya tinggal di kampung, hanya saja kalau bukan untuk menuntut ilmu aku tidak akan mau tinggal di kota ini bersama tante ku yang kadang bikin aku jengkel . Aku ingat waktu kecil aku sering memotong bulu mata ku agar tak terlalu panjang, tapi setelah beberapa hari bulu mata itu kembali panjang kalau sudah begitu mama selalau menghibur ku, bahwa aku anak yang paling cantik di kampung itu.

           Sebenarnya aku sudah hampir lupa dan dapat menerima perbedaan pada diriku, tapi pria berwajah asing itu kembali membuat ku sedih dan mengingatnya.

          ****

          Tapi aku makin heran setelah aku mengetahu kalau ternyata pria berwajah asing itu ternyata pria yang baik,lucu,pintar dan juga ramah hanya kepadaku lah ia begitu benci demikian rupa. Sebenarnya makhluk kokoh itu begitu menarik, sosoknya tinggi tegap, memiliki bulu mata tipis dan bermata tajam tapi lembut persis seperti pria idaman ku yang selama ini ku harapkan.

          Malam yang sepi aku termanggu sendirian meski pandangan tertuju layar televisi tapi fikiranku melayang jauh, ku hirup coklat susu di hadapan ku tiba-tiba bayangan pria asing itu muncul melintas, sosoknya akhir-akhir ini semakin mengganggu fikiranku.

       Tapi sejak tempo hari pria itu berubah 180 derjat tak lagi menggangguku, sebenarnya apa yang terjadi pada makhluk itu sebentar jahat sebentar baik. Aku tringat kejadian 3 hari yang lalu waktu aku menunggu Vaneysa teman dekat ku dari SMP, lagi-lagi fajar mengganggu ku dan memaksa untuk mengantar ku pulang, sikap faar waktu itu sangat keterlaluan, saat itu pria asing itu melintas menatap fajar tajam, dan hanya berkata kalau aku akan pulang bersamanya, dia mampu membuat fajar tersenyum kecut dan meninggalkan fajar sendirian.

         Pria itu memang disegani teman-teman karena menurut mereka pria itu baik pada semua orang tak pernah memancing kemarahan meski memiliki ilmu bela diri di atas rata-rata dan mempunyai prestasi baik, tak heran banyak cewek-cewek yang menyukainya . beberapa hari yang lalu aku sempat melihat dia mengantar Vany pulang sekolah .

         Siapa sih yang nggak kenal Vany..? gadis cantik bermata bulat dan hatinya baik. Terhadapku gadis itu selalu ramah meski ku tak sekelas dengannya, tapi bila bertemu kami selalu berbincang-bincang walaupun hanya sejenak, nada bicaranya cedas dan lembut tak semestinya kalau aku tak suka dengan gadis itu, hanya karena ia dekat dengan pria itu.

         He seru pria itu pelan membuat ku tergelonjak kaget.

         Kagat ya ….?? Maaf pria itu tersenyum wajahnya menunduk sambil memandang wajah ku. Tak tega ku melihat sosok yang biyasanya terlihat garang itu kini kelihatan begitu salah tingkah.

         Hey….

         Dari mana tadi Tanya ku ramah kepadanya….?? Dari rumah, sengaja aku kesini, mau minta maaf , sorry kalau aku sering menyakiti mu. Suara itu mengembang…!! Buru-buru aku memotong bicaranya sudah dari dulu kamu ku maafkan ,, ku yakin kamu tidak sejahat itu, ujar ku manis, pria itu tersenyum, kamu memang wanita yang baik , aku yang bodoh tak bisa membedakan persoalan satu dengan yang lain,terlalu picik….!! Maksud mu?? Aku menatap tak mengerti ,… pria itu mehela nafas panjang kamu tau, satu bulan yang lalu pacar ku berselingkuh dengan  seorang pria, dia hamil dengan sahabat ku sendiri padahal sudah dari kalas I SMP kami membina hubungan kami tapi tega-teganya dia menghancurkan smuanya, aku benar-benar hancur aku tidak tahu harus berbuat apa, sampai aku bertemu dengan mu dan melampiaskan semua kemarahan kepadamu….

          Aku terkejut mendengarnya, mata ku menatap pria itu yang kelihtan kuyu,aku mengerti apa yang dirasakannya bagai mana skitnya saat kita tahu orang yang kita cinta pergi begitu saja bahkan lagi sampai hamil dengan sahabat kita sendiri,sungguh sangat mengecewakan.

          Hmm serunya membangunkan lamunan ku.

         Tapi aku sadar kamu tidak ada hubungannya dengan persoalan kami, maafin aku, aku tak bermaksud menyakitimu , tidak apa-apa, memang aku pantas menerimanya.

          Tidak –tidak wanita secntik dan sebaik kamu tidak pantas menerima nya, aku beruntung bertmu kamu,kamu telah membuat ku sadar dan bisa membuat ku kembali seperti dulu. Oh iya mau kah kamu bertemu mama ku beliau ingin sekali berbicar dengan mu. Aku pun kembali terkejut bukan main mata, mata bagus ku terbelalak.

           Vany yang cerita bukan aku, rupanya  Vany tahu kalu aku menyipan pto mu di ponsel ku.. maafin aku saat waktu acra pensi wktu itu.aku sengaja memoterek kamu dengan ponsel ku.

          Pipi ku memerah menahan malu, jadi selama ini dia memperhatikan ku ucap ku dihati.

         Oh ia fajar masih sering mengganggu mu?? Aku sdikit tegelojak. Oh tidak lagi, sejak kamu memberi pelajaran kepadanya waktu itu. Pria itu pun tertawa mendengarnya .

          Anak yang satu itu tak pernah berubah, dulu ia selalu mendekati Vany, untung nya Vany tak bergeming,, aku merasa sesak , dan aku mencoba untuk tersenyum dan berkata beruntung kamu mendaptkan kekasih baru seperti Vany, baik cantik,dan juga pintar.

          Pria itu menatap ku heran ..

          Siapa bilang Vany kekasih baru ku, dia sepupu ku.aku pun kembali terkejut mendengarnya sementar di sudut hati ku paling dalam rasa syukhur terucap, terima kasih tuhan kau telah menyirami bunga yang telah layu hingga kini kembali subur,aku menatap mata pria itu dengan bahagia. Sementara pria itu menyentuh pelan jemari ku ke dalam genggamannya,dan semakin mendekatiku lalu mencium ku dengan mengucapka sebuah kata I love You sayang.

         Tiada kata yang terindah saat itu selain ku membalas I love You too.

*The END****  
|T|H|A|N|K|'S| |F|O|R| |R|E|A|D|I|N|G|

Itulah Cerpen Dari  media perianti  dengan judul "Bunga yang Telah Layu Hingga Kini Kembali Subur" .
Punya Cerpen Juga Atau Puisi silahkan kirim ke blog ini dengan menuju link Kirim Tulisanku
10out of 10 based on 41630 ratings. 1 user reviews.