Cara Cepat Hamil
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Cinta. Tampilkan semua postingan
Cerpen Cinta: DIA MILIKKU

Cerpen Cinta: DIA MILIKKU

Cerpen Cinta
Cerpen Cinta DIA MILIKKU
Oleh : Mimin Khoirum Widiawati

Cerpen Cinta DIA MILIKKU


        “Udahlah Ka! Kamu ternyata gak sebaik yang aku kira! Mendingan sekarang kita PUTUS!”
Kata-kata itu selalu terngiang ditelingaku. Aku putus dengan Judika. Orang yang sudah menjadi pacarku selama 3 bulan ini. Sungguh aku sangat sayang padanya. Tapi dia sudah menghancurkan kepercayaan yang telah kuberikan untuknya. Tapi, aku tidak ingin mengingat hal ini lagi. Aku harus melupakannya.

“Hai Ra.” Sapa Syifa, sahabatku
“ Hai juga Fa. Kamu sama siapa kerumahku?” tanyaku
“Sama pacar baruku. Kenalin, Judika ini Dira. Dira, ini Judika.” Kata Syifa yang amat sangat mengagetkanku. Kenapa bisa Syifa pacaran dengan mantanku? Memang salahku, yang gak pernah ngenalin Judika ke Syifa. Tapi emang dasarnya Judika playboy. Baru putus seminggu udah gandeng pacar baru. Aku pun berkenalan dengan Judika, dan seolah-olah aku tidak mengenalnya di hadapan Syifa. Aku tidak ingin menyakiti hati sahabatku.

Setelah kejadian itu, hampir tiap hari aku murung. Aku masih sangat menyayanginya. Tapi kenapa dia pacaran dengan sahabatku sendiri? Oh Tuhan. Aku bingung sekarang. Kadang muncul dibenakku rasa bersalah telah memutuskan Judika. Tapi, aku juga marah, karena waktu itu aku melihat dengan mataku sendiri kalau Judika selingkuh. Ahh! Aku bingung!! Tapi, aku mencoba untuk melupakan Judika dan berdoa yang terbaik untuk Syifa. Dan semoga juga, Syifa tidak disakiti oleh Judika.
Sebulan telah berlalu. Perlahan-lahan aku sudah mulai bisa melupakan Judika. Aku sudah mulai bisa melupakan sosok yang telah membuat hatiku sakit berulang kali itu. Terimakasih Tuhan, Engkau sedikit-sedikit sudah membantuku menghapus kenangan Judika. Hingga suatu hari di kelas. . . . .

“Ra. Lagi ngapain?” tanya Syifa tiba-tiba mengagetkanku
“Eh, kamu Fa. Ngagetin aja. Ini nih, aku lagi ngetik laporan buat dikumpulin ke Bu Eli besok. Kamu gak ngerjain laporannya?” tanyaku
“Ah, aku malas! Aku lagi galau nih.” Kata Syifa
“Galau kenapa Fa? tanyaku
“Aku putus sama Judika, gara-gara dia ketahuan selingkuh. Ihh!! Nyebelin banget sih jadi cowok! Benci banget deh aku sama dia!” kata Syifa sambil marah-marah
“Udahlah Fa. Mungkin bukan dia cowok yang pantas buat kamu. Kamu harus belajar buat ngelupain cowok yang gak punya perasaan kayak dia.” Kataku menenangkan Syifa
“Iya Ra. Makasih yah. Kamu udah ngasih saran ke aku.” Kata Syifa
“Iya. Sama-sama.” Jawabku


Bel pulangpun berbunyi. Aku segera merapikan meja dan bergegas ingin pulang. Tapi langkahku terhenti setelah ada yang menghalangi langkah kakiku. Sosok bertubuh tinggi, ganteng, dan dengan bau parfum yang tidak asing bagiku. Yah, Judika.

“Mau apa kamu?” tanyaku dengan tatapan yang sinis
“(sambil memegang tanganku) maafin aku Ra.” Kata Judika
“(sambil menarik tanganku) gak bakal!” jawabku singkat
“Plis Ra. Aku masih sayang banget sama kamu. Waktu kamu putusin aku, kamu sama sekali gak mau dengerin penjelasan dari aku. Semua itu gak seperti yang kamu lihat Ra. Pliis, percaya sama aku.” Kata Judika
“Oh yah? Jadi yang aku lihat waktu itu apa? Kamu lagi main drama? Atau mungkin, teater? Mesra-mesraan sama cewek lain sementara kamu masih pacarku waktu itu! Dimana sih, hatimu Ka? Pembelaan dirimu itu gak penting buatku! Aku gak bakalan pernah percaya!” kataku kesal dan sempat meneteskan air mata
“Yang kamu lihat waktu itu semuanya gak bener Ra. Sebenernya, dia itu mantanku. Dia gak pernah terima aku putusin. Dia terus aja ngejar-ngejar aku. Sampai waktu hari itu, kamu ngeliat aku yang dipeluk sama dia. Dia tiba-tiba aja meluk aku waktu kamu datang. Dia sengaja pengen ngancurin hubungan kita. Dan rencananya berhasil. Kita putus dengan mudahnya. Karena hasutan orang lain.” Kata Judika
“Tapi kenapa kamu pacaran sama Syifa Ka? Sama sahabatku sendiri? Terus kamu tega nyakitin perasaan dia. Kamu selingkuhin dia! Kamu itu cowok macam apa sih?!” kataku kesal
“Maafin aku Ra. Sebenernya, aku pacaran sama Syifa cuma buat ngilangin rasa sakit hatiku ke kamu. Aku Cuma pengen dapetin penggantimu. Tapi, kamu memang pemenangnya Ra. Kamu abadi dihatiku. Aku gak pernah bisa buat ngelupain kamu meskipun aku pacaran sama sahabat kamu sendiri. Aku sayang sama kamu Ra. Pliis Dira, maafin aku.” Kata Judika membuat hatiku luluh
“Aku juga minta maaf Ka. Waktu itu, aku gak pernah mau dengerin penjelasan kamu. Aku juga sebenernya masih sayang sama kamu.” Kataku
“Jadi kita balikan lagi yah. Kamu mau kan jadi pacarku lagi?” kata Judika
“(mengangguk)”

Akhirnya, aku pulang bersama dengan Judika. Senang sekali rasanya bisa balikan sama Judika. Aku sadar kalau aku memang sangat menyayanginya. Bagiku, Judika segalanya. Meskipun aku sempat mencoba untuk melupakannya, tapi rasa sayangku untuknya tetaplah abadi. Hingga hal yang tak pernah kuinginkanpun terjadi.

“Pagi Fa.” Sapaku pada sahabat baikku itu
“(menatapku sinis, lalu mengalihkan pandangannya tanpa menjawab sapaanku)”
“Kenapa? Ada yang salah yah sama aku? Aku udah buat kamu marah yah? Aku minta maaf yah Fa.” Kataku seraya mengulurkan tanganku untuk meminta maaf pada Syifa
“(menepis tanganku) kamu itu bener-bener cewek licik yah.” Katanya sambil tersenyum sinis
“Apa maksudmu?” tanyaku tak mengerti
“Pasti kamu kan, yang udah ngerayu Judika biar dia putus sama aku? Dasar cewek licik. Sahabat sendiri ditikung. Aku liat dengan mataku sendiri kemarin kamu pelukan sama Judika didepan kelas. Dasar perebut kamu Ra! Aku benci sama kamu!” kata Syifa yang sangat mengagetkanku
“Kamu salah paham Fa. Semuanya gak seperti yang kamu kira. Aku gak nikung kamu.” Kataku memberi penjelasan kepada Syifa
“Allaaahh! Alasan kamu tuh udah basi tau gak? Yang kenalin Judika kekamu itu aku Ra. Kenapa kamu malah kayak gini sama aku? Dimana sih hatimu sebagai seorang cewek?” kata Syifa diikuti dengan tangisan
“Maafin aku Fa. Aku yang gak pernah cerita kekamu. Sebenernya, Judika itu mantanku. Dulu, aku putusin dia karena aku salah paham sama dia. Dan aku gak mau dengerin penjelasan dari dia. Dia sangat terpukul, makanya dia pacarin kamu. Dia tau kalau kamu tuh sahabatku. Dia pikir, dengan dia pacarin kamu, rasa sayangnya ke aku tuh bakalan hilang. Tapi nyatanya gak. Dia masih tetap sayang sama aku. Makanya kemarin dia dateng kekelas buat minta maaf ke aku. Dan ngejelasin semuanya. Akhirnya, aku balikan lagi sama dia. Tapi kalau karena dia persahabatan kita jadi hancur, aku bakalan putusin dia lagi Fa.” Kataku sambil menangis
“(memelukku) maafin aku yah Ra. Aku udah salah paham. Gak usah Ra, kamu gak usah putusin Judika. Kamu cocok kok sama dia. Aku dukung kalian. Maafin aku yah.” Kata Syifa

Aku akhirnya baikan sama Syifa. Dan hubunganku dengan Judika, tetap berjalan lancar. Aku berharap, bisa selamanya bersama dengan orang-orang yang kusayangi.


=====*****=====
|T|H|A|N|K|'S| |F|O|R| |R|E|A|D|I|N|G|

Itulah Cerpen Cinta DIA MILIKKU  Dari  Mimin Khoirum Widiawati

Profil Penulis
Nama : Mimin Khoirum Widiawati
TTL : Malang, 26 DEsember 1996
Sekolah : SMKN1 Bontang Kalimantan Timur
Alamat : Jalan RE MARTADINATA Loktuan, Bontang
Hobi : Menulis, Memasak, Tidur
Alamat Facebook : widicamutz@yahoo.co.id
Alamat Twitter : MiminKhoirum@yahoo.co.id


Punya Cerpen Juga Atau Puisi silahkan kirim ke blog ini dengan menuju link Kirim Tulisanku

Cerpen Cinta: SINAR MENTARI

Cerpen Cinta: SINAR MENTARI

Cerpen Cinta
Cerpen Cinta SINAR MENTARI
Oleh : Mimin Khoirum Widiawati

Cerpen Cinta SINAR MENTARI

         Aku menapaki jalan setapak yang basah dan becek karena baru saja telah turun hujan. Jalan ini lengang, tak ada satu orangpun yang lewat, kecuali aku. Aku takut, tapi aku berusaha untuk melawan rasa takutku, dan bergegas ingin sampai kerumah. Aku baru saja pulang dari kursus memasak. Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Tapi, aku belum juga sampai dirumah dikarenakan jalan yang becek, membuatku sulit untuk berjalan. Jalan ini licin, aku takut terpeleset. Dan tiba-tiba. . . . . . . .
BRAKKK!!!!!!! Aku terjatuh. Sakit memang, tapi aku harus bangun. Kondisi badanku yang memang kurang enak, membuatku tidak ingin melanjutkan perjalanan. Tapi aku harus pulang. Akhirnya, pukul 9.30 malam aku sampai dirumah.

Sesampainya dirumah. . . .

“Dari mana saja kamu nduk..?” tanya Ibuku
“Maaf Bu, aku tadi pulang dari kursus memasak, tapi karena jalanan licin dan becek aku tidak bisa cepat-cepat Bu. Aku takut jatuh, ini aja aku udah jatuh..” Jawabku
“Aduh Sinar, Ibu kan sudah bilang, kamu tidak usah lagi ikut kursus yang tidak penting itu nduk. Ibu bisa mengajari kamu memasak tanpa perlu kursus-kursus. Kondisi kamu tidak seperti teman-temanmu yang sehat nduk. Kamu perlu banyak istirahat. Nanti penyakitmu kambuh kalau kamu terlalu banyak aktivitas..” kata Ibu cemas.
“Tapi Bu. . . .”
“Tidak ada tapi-tapian nak. Ibu tidak ingin kamu jatuh sakit lagi. Ibu tidak ingin kehilangan kamu nduk. Untuk kali ini saja, turuti Ibu sayang.” Kata Ibu
“Aku gak bisa Bu. Maafin aku. Aku senang memasak, aku gak bisa tanpa memasak Bu. Aku ingin menjadi hebat seperti chef-chef yang terkenal yang sering muncul di TV itu Bu.” Kataku
“Jangan bodoh Sinar! Kamu ini sakit! Kamu tidak seperti teman-temanmu yang sehat. Kamu harusnya lebih memperhatikan kesehatanmu nak.” Kata Ibu
“Iya Bu. Aku tau kalau aku ini penyakitan. Tapi, apa aku gak boleh, mengejar cita-citaku Bu? Gak boleh? Saat aku memasak, aku merasa lebih senang dan lupa akan semua penyakit yang menimpaku Bu. Saat aku memasak, aku merasa sangat tenang. Aku mohon Bu, izinkan aku untuk tetap kursus memasak..” pintaku
“Baiklah Sinar jika itu kemauanmu. Ibu ingin yang terbaik untukmu nak. Tapi kamu harus ingat, kamu harus menjaga kesehatanmu, supaya penyakitmu tidak gampang kambuh..” kata Ibu
“Iya Bu. Makasih yah Bu (sambil memeluk Ibu)”
“Iya nduk. Sekarang kamu tidur yah, besok kan kamu harus sekolah.” Kata Ibu
“Baik Bu..” jawabku
Aku pun masuk kedalam kamar dan bersiap-siap untuk tidur. Yah, beginilah keadaanku. Tinggal di rumah yang sederhana dengan seorang Ibu yang begitu menyayangiku. Ayahku sudah lama telah tiada. Aku mempunyai seorang adik perempuan dan seorang kakak laki-laki. Namaku, Sinar Mentari. Yah, nama yang sangat indah untuk kumiliki. Aku senang dengan namaku itu. Sudah 2 tahun ini, aku divonis Dokter mengidap Leukimia. Dokter memprediksikan, bahwa umurku tidak akan lama lagi. Tapi buktinya, sampai saat ini aku masih bisa bertahan demi orang-orang yang kucintai. Demi Ibu, Kak Radit, dan Savira. Aku sangat menyayangi mereka. Aku sekarang sedang duduk di kelas X SMA. Aku sangat hobi sekali memasak. Dulu, Ibuku menentang hobiku itu, karena dia pikir dengan aku kursus memasak, aku akan menghabiskan banyak tenaga sehingga aku kecape’an, dan akhirnya penyakitku kambuh lagi. Tapi sekarang, Ibu sudah mendukung hobiku. Aku senaaaang sekali.

Keesokan harinya. . . . .

“Sinaaaaaaaaaaaaarrrr!!! Baaaaaannnggguuuunnnn!!! Teriak Kak Radit tepat di telingaku.
“(kaget) apaan sih Kak Radit. Aku masih ngantuk.” Jawabku bermalas-malasan
“Yasudah kalau kamu gak mau sekolah, tidur aja terus. Kakak udah mau berangkat nih.” Kata Kak Radit
“Emangnya ini jam berapa sih Kak?” tanyaku
“Jam setengah 7.” Kata Kak Radit sambil berlalu keluar dari kamarku
“Apaaaa!!! Aduh Kak Raaaaaaaaaddddiiiiiittt!! Kenapa gak bilang dari tadi kalau udah jam segini. Aku kan bisa telat! Kak Radiiiitt!!” kataku memanggil Kak Radit
“Yah salah sendiri. Udah yah, kakak berangkat dulu. Assalamualaikum Sinar..” kata Kak Radit sambil meninggalkanku, dia pergi dengan tawa bahagia karena adiknya telat.
“Walaikumsalam, eh Kak Radit! Aduuh. Tungguin dong, aku mandinya kilat deh.. Kak, Kak Radit..” kataku
“Gak mau ah. Nanti kakak telat lagi. Hahahahaha!!” kata Kak Radit
“IIIIHHHHH!! Kak Radit NYEBELIN!!” kataku
Akupun bergegas untuk mandi dan bersiap-siap kesekolah. Gara-gara telat, aku jadi lupa sarapan dan lupa mengambil uang saku. Alhasil, aku jalan bahkan sedikit berlari untuk mencapai sekolahku yang jaraknya kurang lebih 1km dari rumahku. Saat perjalanan kesekolah, tiba-tiba saja ada motor yang berhenti tepat disebelahku. Akupun menengok dan. . . . .
“Telat yah?” tanya Reyhan, teman sekolahku
“Oh kamu Rey. Aku kira siapa. Iya nih. Mana Kak Radit gak mau antarin aku lagi. Nyebelin!” jawabku
“Hahahaha! Habisnya kamu telat sih, jelaslah Kak Radit gak mau antarin kamu. Yaudah, bareng aku aja yuk..” ajak Rey
“Hmm. Iya deh.” Jawabku
Akupun naik keatas motor Reyhan. Reyhan adalah teman sekolahku. Tepatnya, teman sekelasku sekaligus sahabat baikku. Aku sangat suka padanya, karena dia baik. Bukan suka yang gimana-gimana loh. Hihihih. Reyhan ganteeeng banget. Banyak cewe-cewe disekolah yang naksir dia. Tapi, dia gak mau. Mungkin Reyhan trauma sama cewe kali yah. Tapi gak papa sih, Reyhan tetap sahabat baikku, seperti apapun dirinya. Aku sayang Reyhan.

Sesampainya disekolah. . . . . . .

“Sampai didepan gerbang yah aja tuan putri yang cantik.” Kata Reyhan
“Ih! Apaan sih Rey.? Hahahah! Iya deh. Makasih yah, pangeran yang buruk rupa.” Jawabku
“Eh! Sialan! Aku dikatain buruk rupa. Awas aja yah kamu, nanti gak aku tebengin lagi.” Kata Reyhan
“Hahahahh! Iya iya deh, sori Reyhan yang keren. Makasih yah.” Kataku
Akupun berlalu meninggalkan Reyhan yang akan memarkir motornya. Sesampainya dipintu kelas, aku melihat belum ada guru yang masuk. Syukurlah, aku tidak terlambat. Akupun lalu duduk ditempatku, dan mulai membuka-buka buku pelajaran yang akan kami pelajari hari ini. Yah, itulah kebiasaanku. Selalu membuka buku sebelum pelajarannya dimulai. Saat Reyhan masuk kedalam kelas, tepat sekali. Belpun berbunyi. Semua murid bergegas masuk kedalam kelas dan duduk ditempatnya masing-masing. Tak berapa lama kemudian, Bu Dian guru Bahasa Indonesia pun masuk. Tanpa banyak basa-basi, dia langsung mengucapkan salam dan pelajaranpun dimulai. Aku sangat suka pelajaran Bahasa Indonesia.
Tak berapa saat kemudian, bel pun berbunyi. Menandakan pergantian jam pelajaran. Tak berapa lama juga, Pak Heru guru Matematika pun masuk. Dia langsung menanyakan PR yang diberikannya minggu lalu. Kami pun langsung mengumpulkannya dan beliau pun langsung melanjutkan pelajarannya saat semua murid sudah mengumpulkan PR. Akhirnya, bel pun berbunyi. Ini menandakan istirahat telah tiba.

“Baiklah anak-anak, pelajarannya kita lanjutkan besok, sekarang sudah waktunya istirahat. Jangan lupa untuk mengerjakan tugas yang Bapak berikan. Bapak akhiri, Assalamualaikum.” Kata Pak Heru sambil meninggalkan kelasku
“Walaikumsalam” jawab murid-murid

Di kantin. . . . . . .

“Hay Sinar, lagi ngapain kamu?” sapa Reyhan tiba-tiba
“Aduh Reyhan, daritadi ngagetin terus sih. Aku lagi belajar resep buat cake nih. Hehehheh” jawabku
“Loh. Bukannya Ibu kamu melarang kamu buat ikut kursus memasak itu yah? Nanti kamu sakit lagi Sin. Kamu harus jaga kesehatan kamu. Ingat itu.” Kata Reyhan mengingatkan
“Iya Rey. Tapi itu dulu, sekarang Ibuku sudah mengizinkan untuk ikut kursus memasak itu. Aku senaaaang sekali. Ibuku akhirnya mengerti apa keinginanku.” Jawabku riang
“Wah.. Baguslah kalau begitu. Itu artinya, kamu bisa menyalurkan bakat memasakmu dan kamu bisa menjadi hebat seperti chef yang TV itu.” Kata Reyhan
“Hahahah!! Pikiranmu sama denganku Rey. Aku juga ingin menjadi seperti itu. Sangat ingin.” Kataku
“Tapi kamu harus ingat Sinar, kamu harus lebih menjaga kesehatanmu. Aku gak mau kamu sakit lagi. Kamu jangan terlalu lelah yah.” Kata Reyhan mengingatkan
“Iya Rey. Aku tau kok.” Kataku

Bel masukpun berbunyi. Semua murid-murid bergegas memasuki kelasnya masing-masing. Begitupun aku dan Reyhan. Tak terasa, waktu begitu cepat berlalu. Akhirnya, bel yang ditunggu-tunggu pun berbunyi. Yah, bel yang menandakan waktu pulang sekolah. Semua murid lalu merapikan barang-barangnya dan memberi salam pada guru yang terakhir mengajar. Kami semua pun akhirnya pulang.

Perjalanan pulang. . . . . .

“Sinar, pulang sama siapa?” tanya Reyhan
“Gak tau nih Rey. Kayaknya Kak Radit gak jemput aku deh.” Jawabku
“Yaudah, bareng aku aja yuk, daripada kamu jalan kaki atau naik bis, ongkosnya lebih mahal, lagian pasti kamu capek juga kalau jalan kaki. Aku tau kalau kamu gak bawa uang saku kan?” kata Reyhan
“Heheh!! Iya. Yaudah deh, aku bareng kamu aja (sambil naik kemotornya Reyhan)”
“Tapi, kita makan dulu yah.” Kata Reyhan
“Terserah kamu aja Rey. Tapi traktir yah.” Jawabku
“Sip oke bos..” jawab Reyhan

Aku dan Reyhan pun tiba disebuah tempat makan. Reyhan memesankan aku makanan dan minuman. Dia juga memesan sama seperti makanan dan minumanku. Kami berdua pun makan. Setelah kenyang, aku dan Reyhan pulang. Reyhan mengantarkanku sampai kerumahku. Setibanya dirumahku, Reyhan tidak mau mampir. Katanya, ada les yang harus dia ikuti dan tidak boleh terlambat. Akupun lalu mengucapkan terimakasih padanya, lalu aku masuk kedalam rumahku. Reyhan pun pulang. Saat aku memasuki rumahku, Ibu sudah menungguku di meja makan. Ibu lalu mengajakku untuk makan siang bersama.

“Sinar, kamu sudah pulang nduk. Makan dulu yah nak, ganti baju kamu dulu.” Kata Ibu
“Aduh Bu, maaf yah. Tapi aku tadi sudah makan sama Reyhan Bu. Tadi aku pulang sama dia, jadi sekalian diajak makan sama dia.” Jawabku
“Yasudah, kamu ganti baju aja dulu. Jangan lupa shalat ya nduk.” Kata Ibu
“Oke deh Bu, Sinar kekamar dulu yah Bu.” Jawabku
Sesampainya dikamar, aku langsung ganti baju. Setelah ganti baju, aku bergegas mengambil air wudu untuk melaksanakan shalat Dhuhur. Beberapa saat kemudian, akupun selesai shalat. Aku lalu merebahkan tubuhku diatas kasur dan aku mulai menulis di buku harianku.

Ada getaran yang beda, ketika sepasang mata yang indah itu saling menatap. Ada sesuatu, yang sangat spesial dan sangat berarti maknanya bagiku. Aku ingin, jika sepasang mata yang indah itu menjadi milikku. Aku ingin memilikinya. Ingin sekali. Tuhan, apakah ini cinta? Sampai saat ini aku masih belum mengerti. Ketika aku berada dalam sebuah hutan yang gelap dan tidak ada siapapun disana, aku bisa melihat sebuah cahaya yang terang menyala. Yah, cahaya cinta dari seseorang yang memiliki sepasang mata yang indah.

Sinar

Setelah selesai menulis dibuku harianku, tanpa sadar akupun terlelap. Sampai akhirnya, adzan berkumandang. Akupun terbangun dari tidur siangku. Aku lalu mengambil air wudu dan melaksanakan shalat Ashar. Setelah selesai shalat, aku berjalan keluar kamar. Aku duduk dihalaman belakang rumahku. Aku duduk, dan terus duduk disana. Aku merenungi nasibku. Sampai kapankah aku akan bertahan hidup? Akankah aku sembuh? Ya Tuhan. Pikiranku kacau sekarang. Tanpa aku sadari, air mataku pun mengalir. Aku dengan cepat menghapusnya, sambil berkata “Tidak Sinar! Kamu orang yang kuat, kamu pasti bisa Sinar! Jangan putus asa!”

Beberapa hari kemudian. . . . .

“Oh Tuhan, sampai kapankah aku akan bertahan?” Sudah seminggu ini pikiranku diganggu oleh pertanyaan itu. Bahkan aku sampai lupa untuk kursus memasak karena aku merasa telah hancur. Aku bukanlah Sinar yang biasanya. Kali ini aku lebih rapuh dan lebih mudah putus asa. Mengapa aku seperti ini? Apakah Tuhan akan memanggilku sebentar lagi? Entahlah, yang jelas sekarang aku tidak berminat untuk melakukan apa-apa. Aku hanya berusaha untuk memperbanyak amal baikku dan terus melaksanakan perintah-perintahNya. Mungkin ini adalah sebuah firasat, kalau Tuhan akan memanggilku sebentar lagi.
Hari-hari belakangan ini selalu aku lewati dengan murung. Tak seceria biasanya. Hingga pada suatu sore, aku bertemu dengan Rey di sebuah taman. Aku kebetulan jalan-jalan disana sendirian untuk menghilangkan pikiran-pikiran yang selama ini menggangguku. Dan, Rey pun menyapaku.
“Sendirian aja Sin?” tanya Reyhan
“Iya Rey. Kamu juga sendirian?” tanyaku balik
“Iya, kamu ngapain disini? Akhir-akhir ini, aku sering melihatmu murung dan berdiam diri. Gak seperti Sinar yang biasanya. Sinar yang periang dan lucu. Ada apa?” tanya Reyhan khawatir

Akupun duduk di sebuah bangku taman, dan mulai bercerita apa yang selama ini aku alami pada Reyhan.

“Rey, kamu gak akan pernah ngerti apa yang selama ini aku rasain.” Kataku, memulai pembicaraan
“Apa maksudmu Sin?” tanya Reyhan
“Aku mencoba buat menjadi seorang yang periang dan lucu dihadapan semua orang, tapi itu hanya kebohongan yang besar. Aku rapuh Rey, aku pecundang, aku hancur!” kataku seraya menitikkan air mata
“(sambil memelukku yang sedang menangis) kata siapa? Kamu gadis yang kuat Sinar. Kamu itu adalah inspirasi bagi penderita leukimia yang lain. Kenapa kamu ngomong kayak gitu? Apa yang membuat kamu berfikir seperti itu setelah kamu bisa melupakan penyakitmu dan mencoba menjadi periang didepan orang-orang yang mengkhawatirkanmu? Kamu itu gadis yang luar biasa! Kamu tau itu Sinar? Kamu tau kenapa kamu menjadi gadis yang luar biasa? Karena kamu masih bisa tersenyum disaat kamu sedang susah, kamu masih bisa tertawa, dan kamu juga bisa membuat orang lain tertawa. Kamu luar biasa!” kata Reyhan memberiku semangat
“(tersenyum) makasih Rey, kamu udah ngajarin aku hal baru. Kamu baik banget. Sekarang, aku bakalan coba buat jadi Sinar yang dulu lagi. Makasih yah Rey. (memeluk Reyhan)”
“Iya Sinar, oiya ada satu hal lagi yang pengen aku sampein ke kamu.” Kata Reyhan membuatku penasaran
“Apa?” tanyaku
“Selama ini, ada sebuah bintang yang bersinar terang dihatiku. Aku ingin memiliki bintang itu. Ingin sekali. Bintang itu bernama Sinar.” Kata Reyhan
“Maksudmu?” tanyaku lagi
“Aku mencintai kamu Sinar. Aku sayang sama kamu. Kamu mau kan jadi pacarku?” kata Reyhan membuat jantungku serasa berhenti berdetak

Tuhan. Hatiku serasa melayang mendengar perkataan Reyhan. Aku juga mencintainya, sangat sangat mencintainya. Terimakasih Tuhan, Engkau mengirimkanku seorang malaikat yang akan terus menuntunku kearah yang benar. Akupun mengiyakan pertanyaan Reyhan, yang berarti aku mau menjadi kekasihnya. Reyhan ternyata sama denganku, dia juga sangat senang mendengar jawabanku. Terimakasih Tuhan.

Beberapa bulan kemudian . . . . .

Sudah 2 bulan aku pacaran dengan Reyhan. Hubungan kami sangat akur. Aku semakin lama semakin mencintainya. Hingga bencana itu datang. Bencana yang selama ini aku takutkan. Yah, leukimia. Penyakit itu semakin ganas. Dia tidak mau lagi bertoleransi dengan tubuhku. Hingga akhirnya, aku harus dirawat dirumah sakit. Sedih memang, aku tidak bisa melihat Reyhan yang selalu menghiburku, kemana dia? Mengapa dia tidak datang menengokku. Ya Tuhan, ada apa dengan Reyhan?
Sudah seminggu aku dirawat dirumah sakit, tapi Reyhan tidak juga menengokku. Apakah Reyhan sudah mulai bosan dengan wanita penyakitan seperti aku? Ah, itu tidak mungkin! Reyhan sangatlah menyayangiku. Sampai suatu hari, penyakitku semakin parah. Aku sudah tidak sanggup lagi untuk berkata-kata. Dan hari itu, Reyhan datang dengan membawa sebuah cake kesukaanku. Ya Tuhan, Reyhan sengaja membelikan cake itu untukku? Senangnya..

“Gimana? Udah enakan?” tanya Reyhan
“(menggeleng) pe-nya-kit-ku se-ma-kin pa-rah Rey. A-ku ti-dak bi-sa ba-nyak ber-bi-ca-ra.” Jawabku dengan terbata-bata
“(menangis sambil memelukku) maafkan aku Sinar, aku tidak pernah ada disaat kamu membutuhkanku. Aku benar-benar tidak berguna buatmu Sinar. Maafin aku. Ini, aku bawakan cake kesukaanmu. Selama ini, aku kursus masak sepertimu, agar aku bisa membuatkan kamu sesuatu. Seperti cake ini. Gimana, kamu suka gak?” tanya Reyhan sambil terus menangis
“(mengangguk) i-ya, gak pa-pa. Rey-han, a-ku sa-yang ka. . . . . .
“Sinar, Sinar!! Bangun Sinar! Kamu kenapa? Jangan tinggalin aku Sinar!!! Sinaaaaaarrrrrr!!!” teriak Reyhan

Sinarpun meninggal. Dia menitipkan secarik kertas untuk Reyhan. Yang isinya. . .

To : Reyhan sayang
Ketika pemilik sepasang mata yang indah itu menjadi milikku, aku sangat senang. Bahkan, sulit rasanya untuk aku percaya kalau aku adalah pacarmu. Aku menyayangimu Rey. Meskipun aku udah gak ada disisi mu, tapi percayalah kalau aku akan selalu ada dihatimu. Aku akan selalu hidup disana, menemanimu sampai kapanpun. Aku sayang kamu Rey.
Sinar

Reyhanpun menangis. Dia sadar kalau dia benar-benar mencintai Sinar. Sosok wanita yang membuat hidupnya menjadi lebih berwarna. Yang selalu memberi tawa dihidupnya. Dialah Sinar, Sinar Mentari yang sangat dia sayangi. Yang untuk hari ini dan seterusnya, akan hidup dihati Reyhan meskipun sosoknya sudah tidak bisa lagi dilihat..


=====*****=====
|T|H|A|N|K|'S| |F|O|R| |R|E|A|D|I|N|G|

Itulah Cerpen Cinta SINAR MENTARI  Dari  Mimin Khoirum Widiawati

Profil Penulis
Nama : Mimin Khoirum Widiawati
TTL : Malang, 26 DEsember 1996
Sekolah : SMKN1 Bontang Kalimantan Timur
Alamat : Jalan RE MARTADINATA Loktuan, Bontang
Hobi : Menulis, Memasak, Tidur
Alamat Facebook : widicamutz@yahoo.co.id
Alamat Twitter : MiminKhoirum@yahoo.co.id


Punya Cerpen Juga Atau Puisi silahkan kirim ke blog ini dengan menuju link Kirim Tulisanku

Cerpen Cinta: MALAIKAT UNTUK TASYA

Cerpen Cinta: MALAIKAT UNTUK TASYA

Cerpen Cinta
Cerpen Cinta MALAIKAT UNTUK TASYA
Oleh : Mimin Khoirum Widiawati

Cerpen Cinta MALAIKAT UNTUK TASYA
      Oke , kenalin . Nama gue Natasya Five Nindry Dewi . Panggil aja gue Tasya .Gue itu anak ke lima dari 5 bersaudara , yaa anak bungsu gitu deeh .Gue tuh manja abis , dan gue gak suka banget sama warna merah .Gue gak pernah akur sama kakak-kakak gue .Gue benci mereka semua . Gue gak suka aturan yang mereka buat untuk gue . Kalau menurut gue , itu gak bakalan ngerubah sifat gue yang urak-urakan ini .Jadi , gue milih jalanin aja hidup gue tanpa mikirin mereka semua .Gue gak punya ortu lagi . Mereka udah tenang di surga sana .
Semenjak kematian kedua ortu gue , gue jadi kayak gini . Gue jadi anak yang berandalan . Gue gak terima , kalau gue mesti hidup sama kakak yang gak pernah gue suka . Jadi , ginilah caranya gue memberontak dari kehidupan gue yang gak pernah bersahabat sama gue .
Kakak gue itu , sukanya ngomel , marah gak jelas , nyuruh ini , nyuruh itu , iiihh ...!! emang nya dia kira gue pembantu apa ??!!
Kalau gak mau cepet tua karena ngadapin gue , mendingan kerjain sendiri aja deeh , tuh semua. Paling males yah, kalau disuruh bangun pagi. Ampuunnnn. Gue gak bisa banget bangun pagi-pagi tau gak siiih????!!!
Tapi, ada satu hal yang bikin gue sampai saat ini masih mau sekolah. Yaitu, Mila. Sahabat gue. Tanpa dia, gue bukan siapa-siapa. Dia yang udah ngajarin gue arti sebuah kehidupan.
Bagi gue, Mila sangat berarti.
Gue sayang banget sama sahabat gue itu..

Suatu pagi di sekolah. . . . .

Uhh .. Sial banget sih gue hari ini ..!! Dasar kakak gak tau terima kasih !
Udah bagus-bagus yaa , gue mau di suruh nyuci piring , eh malah gak di kasih uang jajan . Awas loe nanti kalau gue pulang , gue pecahin tuh semua piring !!
Uhhhhhh !!! ( sambil menendang sebuah kaleng )
Bruukk ... kaleng itu mengenai kepala seorang guru BP yang sangar nya minta ampun .
“ Tasya !! apa yang kamu lakukan ?” tanya Bu Indah sambil memelototi Tasya .
“Nendang kaleng Bu,”
“Kamu tahu tidak , kaleng itu kena kepala Ibu , apa kamu mau , masuk ruang BP ?”
“Udah laa Bu, gak benjol juga . Manja banget sih Ibu , kena kaleng gitu aja udah mau masukkan saya ke ruang BP.” ( sambil berlalu meninggalkan Bu Indah yang sedang ngomel-ngomel )
“Tasyaaaaaaaaaaaaa !!!!!!! Ibu kurangi point kamu , Ibu kurangi 25 . awas kamu kalau ketemu Ibu lagi , gak akan Ibu biarin pergi kamu ! Dasar murid kurang ajar !!!!” ( sambil memegangi jidat nya yang rada benjol )

Sesaat kemudian ....
“Haaii-haaii” sapa Tasya pada sahabat nya .
“Haii juga Sya” kata sahabat nya , Mila .
“Lagi mikirin apa’an sii ?” tanya Tasya penasaran .
“Ini nii , katanya mau ada murid baru di kelas IX B . Katanya sih ganteng , cute , pokoknya perfect abis deh .” kata Mila , dengan nada yg di lebay-lebay’in .

Tasya mempunyai sahabat yang sangat mengerti dia . Namanya Mila .
Mila senasib dengan Tasya , sama-sama sudah gak punya orang tua lagi . makanya mereka berdua serasa klop banget giitu .

“Alaah . Seganteng apa sih ? Paling juga di bawahnya kakak Nicky . “ kata Tasya sambil menyebut nama artis idolanya , yaitu Nicky XOIX .
“Huuuh .. Nickyyy aja terus , gak bakalan juga loe ketemu dia Sya , jangan mimpi deh hahahahah .” kata Mila menertawai Tasya .
“Awas lo yaa La, kalau gue ketemu , gue jitak lo .” Hmm ..
“Ke kantin yuk La .” kata Tasya .
“Ayo , laper gue .” kata Mila.

Beberapa menit kemudian , Tasya dan Mila tiba di kantin sekolah yang kebetulan jauh dari kelas mereka , jadi mereka berdua bisa bolos tanpa sepengetahuan guru .
Di kantin , Tasya makan banyak sekali , karena dia tidak sarapan pagi tadi .
Mila pun demikian .

Tiba-tiba , datang sesosok pria yang tampan dan gagah duduk di meja sebelah Tasya dan Mila makan .

“Syaa .. Ganteng banget cowo itu .” kata Mila sambil menyikut-nyikut tangan Tasya .
“Apaan sih loe La ? Gue lagi makan nih , jangan di ganggu .” kata Tasya .
“Itu Sya , liat dulu .” kata Mila .
“Ah , mendingan gue makan , udah jangan ganggu gue .” kata Tasya .

Tiba-tiba cowo itu menyapa Mila .
“Haii Mila ...” kata Reno , nama cowo itu .
“Haaa haa haa haaiii ju ju ju gaa ..” kata Mila dengan gagap . ( Mila kalau ngobrol sama cowo cakep pasti jadi gagap )
“Rileks aja lagi ngomong sama gue , nama gue Reno . Gue anak baru , gue tau loe dari anak-anak yang pada ngomongin loe , katanya loe tukang bolos yaa ?” kata Reno .
“Salam kenal yaa , Reno . Hmm , gue sebenernya gak mau bolos , tapi temen gue yang satu ini nii , yang ngajakin gue bolos mulu’ , yaa . jadi kebiasaan deh . heheheh ..” kata Mila sambil malu-malu .
“ouh . jadi si Tasya ini yang ngajarin lo bolos-bolos gitu yaa ?” kata Reno sambil melirik Tasya yang lagi makan bakso .
“Apa lo ?! Lirik-lirik gue ?!! Mau gue makan lo ?” kata Tasya sinis .
“Dasar cewe aneh . Udah lah La , kita ngobrol berdua aja . Gak usah ngurusin temen lo yang gak tau malu itu .” kata Reno .
“apa kata lo ?!!!!!! Belum tau gue lo yaa . Gue gibeng terbang lo .!” kata Tasya sedikit ngamuk .
“Oiya La , lo kelas berapa ?” tanya Reno pada Mila dan dia tidak menghiraukan Tasya yang marah-marah .
“Kelas 3 Ren , lo kelas berapa ?” tanya Mila balik .
“Sama , waah .. Jangan-jangan kita satu kelas , gue kelas IX B .. lo ?” tanya Reno lagi pada Mila .
“Gue kelas IX C Ren . yaah , gak sekelas deh .” Kata Mila .

Mereka berdua pun asyik ngobrol dan tidak menghiraukan Tasya . Akhirnya Tasya marah dan dia meninggalkan Reno dan Mila berdua di kantin .

Sesaat kemudian ....
“Tasya , kamu kenapa ?” tanya salah seorang siswa bernama Joni yang ternyata menyukai Tasya , dia adalah anak yang pintar dan sopan .
“Gak usah tanya-tanya !!!!! Lo kira lo siapa berani-beraninya tegur gue ?!!” kata Tasya marah .
“Bukan gitu Sya , aku cuma pengen tau , aku sedih liat kamu sedih terus .” kata Joni .
“Lo gak usah sok perhatian deh sama gue . Gue gak butuh perhatian dari lo . !!! Pergi sana lo .!” kata Tasya.

Akhirnya, Joni pun pergi meninggalkan Tasya yang masih saja marah-marah.

Tiba-tiba....
“Sya, ngambek yaa ????” sapa Mila yang merasa bersalah.
“Gak.” dengan ketusnya Tasya menjawab.
“Yaaaah Sya. Gitu aja ngambek. Jangan ngambek dong Sya. Pliiiisss.” kata Mila
“Apaan sih lo ?? Pergi sana sama sii Reno itu. Iiuuuh” kata Tasya
“Hmmmm. Cemburu yaaah ?? Lo suka yah, sama Reno ? Ciiee.” kata Mila
“Iihh. Apaan sih. Gak lagi, jangan ngaco yah lo La.” kata Tasya
“Makanya, maafin gue yah Sya, pliiiiiiiiiiiissssss banget” kata Mila
“Yaudah, gue maafin lo, tapi ada syaratnya. Lo harus nraktir gue makan bakso selama 1 bulan. Gimana ?? Kalau gak mau juga gak papa, tapi gue bakalan ngambek terus loooh.” kata Tasya
“Okee okee Sya, biar loe gak ngambek gue bakalan nraktir lo makan bakso selama 1 bulan. Okee.”kata Mila

Akhirnya mereka berdua pun berbaikan lagi. Sebenernya, dalam hati Tasya, dia penasaran dengan Reno. Tapi, dia malu sama Mila. Malu kalau Mila sampai tau kalau Tasya suka sama Reno.

Keesokan harinya....

“Tassyyyyyaaaaaaaaaaa. Bangun, lo gak sekolah apa ? Udah jam berapa nih ? Ya ampuun Tasya, banguuuuuuuuunnnn” teriak Kak Ita, kakak keempat Tasya.
“Apaan sih kak ? Gue masih ngantuk. Nanti aja banguninnya kenapa sih ? Udah sana pergi ahh.” Jawab Tasya dengan nada bermalas malasan untuk menjawab.
“Ya ampun Tasya, liat nih. Udah jam 07.00, lo nanti dimarain Bu Indah, mau ?” kata Kak Ita.
“Iya iya Kak, gue bangun. Ahh. Nyebelin banget sih lo kak.”kata Tasya.
“Tasya, kenapa ngomong kayak gitu sama kakak kamu ? Hah ? Mau belajar jadi gak sopan yah ?” kata Kak Sam, kakak Ketiga Tasya.
“Ya ampun. Iya iya, maafin gue kak. Gue telat nih, mau cepet cepet. Jangan diomelin mulu’.”kata Tasya


Keluarga Tasya, adalah keluarga besar. Dimulai dari kakak pertama dan keduanya yang kembar bernama, Raditya One Geyandra Putra (Adit) dan Reyhantya Two Geyandra Putra (Han) lalu kakak ketiganya yang bernama, Samantha Threehadi Ningsih (Sam), lalu kakak keempatnya yang bernama, Christhita Fouridina Kumalasari (Ita), dan yang terakhir adalah Natasya Five Nindry Dewi (Tasya).
Sedangkan Mila, sahabat Tasya memiliki keluarga besar juga, yaitu kakak pertamanya yang bernama, Sulung Putra Gandhi (Putra), lalu kakak keduanya yang bernama, Indah Dwi ayu (Indah), kakak ketiganya yang bernama, Trianha Setianingrum (Anha), lalu anak keempat yaitu Milanindia Fourina Khoirum (Mila), lalu adiknya anak kelima yang bernama, Ivia Fivewidia Nisa (Ivi), dan anak keenam yang bernama, Jefry Bagus Sixgandhi (Jefry).

Tasya emang suka banget telat bangun. Sampai kakak-kakaknya nyerah buat ngebangunin dia yang susaaaaaaaahhhh banget buat dibangunin.

Sesaat kemudian...

Bukk.!!!! Suara kaleng yang ditendang Tasya lagi-lagi mendarat dikepala Bu Indah.
“Hmm Hmm Hmm Hmm... Lagi-lagi Tasya, dasar anak badung” kata Bu Indah dalam hati.
“Maaf yah Bu, saya gak sengaja...” kata Tasya meminta maaf.
“Yasudah, sana pergi ke kelas.” kata Bu Indah ramah tak seperti biasanya.
“Kok Ibu gak marah sih? Ibu cape’ yah, ngadapin saya? Maaf deh, kalau gitu Bu, saya janji gak ngulangin lagi..” kata Tasya dengan muka yang dimelas-melasin.
“Gak kok. Ibu gak cape’ ngadapin kamu. Cuma Ibu lagi kurang enak badan aja. Ibu lagi males marah-marah. Apalagi sama kamu yang badungnya minta ampun. Yang ada mlah penyakit Ibu gak sembuh-sembuh lagi.. Sudah sana ke kelas.”kata Bu Indah.
“Yah Ibu, gak seru nih. Gak pake’ marah-marah. Yaudah deh, saya ke kelas yah Bu. Byee Ibu cantiik. :*” kata Tasya pada Bu Indah sambil berjalan meninggalkan Bu Indah.


Sesampainya di kelas...
“La, ngapain tuh anak ada dikelas kita..?” tanya Tasya kepada Mila yang heran melihat Reno ada didalam kelasnya dan menduduki bangkunya.
“Lo gak tau yah Sya? Dia kan udah dipindahin ke kelas kita..” kata Mila.
“Ohh. Terus, ngapain dia duduk di bangku gue??” tanya Tasya lagi.
“Hehehehh.. Gak tau tuh Reno. Dia bilang pengen duduk sebangku gue..” kata Mila.
“Iddiiiih. Enak bener hidup dia kalau kayak gitu. Dia pikir dia siapa.?!!!!! Anak baru aja belagu. Itu kan bangku gue, gue yang pertama kali nempatin. Dia dengan sekali datang langsung main ambil bangku gue. Awas aja yah..!!!!!!” kata Tasya sambil ngomel panjang lebar lalu mendatangi Reno..
“Sabar Sya, sabar. Nanti juga pindah sendiri dia. Dia bercanda aja kok mungkin..” kata Mila menenangkan Tasya.
“Allaaaaaah..!!! Dia kalau gak dimaki-maki gak bakalan pindah..!” kata Tasya sambil mendatangi Reno.


Lalu...
Braaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkk!!!! Suara meja yang dipukul Tasya. Tasya benar-benar marah kali ini.
“Heeh cewek bego’, ngapain lo mukul meja gue.?” Kata Reno sedikit marah juga.
“Heeh cowok sableng, lo yang ngapain, hah? Ini meja gue, bukan meja lo.!” Kata Tasya.
“Ohh yaa? Ini meja lo? Itu dulu, sekarang ini jadi meja gue.!!” Kata Reno.
“Enak aja yah lo.!! Udah jago lo?! Haah? Jangan mentang mentang lo cowok yah, lo pikir gue takut sama lo!!” kata Tasya.

Reno pun terdiam. Bukan karena dia takut pada Tasya. Tapi karena dia teringat pada perkataan Mila yang memberitahunya bahwa Tasya seperti ini karena dia kesepian ditinggal oleh kedua orang tuanya.

“Gue minta maaf Sya..” kata Reno tulus.
“Gue gak bakal yah, maafin lo!!! Ingat itu! Dasaar!! Gue benci sama lo Ren..! Gue benci sama semuanya.!!! Gue benci..!!!! Gak pernah ada orang yang bisa ngerti’in gue. Gue benci!!” kata Tasya dengan mata yang berkaca-kaca. Lalu dia berlari meninggalkan kelas.
“Tasyaaaaa.!!” Teriak Reno memanggil Tasya.


Laluu...

“Gue benci! Gue benci! Gue benci!!!!!!!!!” Teriak Tasya. Dia sekarang sedang berada di gedung belakang sekolah. Dia menangis sendirian disana

Dan tiba-tiba Reno datang menghampiri Tasya. Dia memang merasa bersalah pada Tasya. Dia ingin meminta maaf. Lalu. . . . .

“Tasya.” Panggil Reno
“Apa? Gak bosen-bosennya yah lo gangguin gue.” Jawab Tasya sambil menangis
“Gue minta maaf.” Kata Reno
“Mungkin maaf itu gak akan pernah cukup Ren. Lo tau, selama gue hidup, gak pernah ada orang yang suka sama gue. Bahkan kakak-kakak gue sendiri, gak pernah ada yang suka sama gue. Gue benci kayak gini Ren. Ditambah lagi sama sikap lo yang bikin gue tambah muak hidup didunia.” Jawab Tasya sambil menangis
“Gue gak bermaksud gitu Sya. Gue pikir, lo cewek yang asik. Gue coba deketin lo dengan cara kayak gitu. Gue gitu karena gue pengen deket sama lo Sya. Gak semua orang kok gak suka sama lo. Gue suka sama lo Sya. Suka banget, dari pertama gue liat lo. Lo mau gak, jadi pacar gue?” kata Reno yang mengagetkanku
“(kaget) gue gak salah denger?” jawabku
“(menggeleng) gak kok, lo mau jadi pacar gue?” kata Reno mengulangi pertanyaannya
“Sebenernya, gue juga suka sama lo Ren.” Jawab Tasya
“Jadi, lo mau gak?” tanya Reno
“(mengangguk) iya.” Jawab Tasya

Ternyata masih ada orang yang menyayangi Tasya. Betapa senangnya dia. Dia sadar, kalau Reno sebenarnya adalah orang yang baik. Terimakasih Tuhan, Engkau telah menurunkan seorang malaikat untukku.

=====*****=====

|T|H|A|N|K|'S| |F|O|R| |R|E|A|D|I|N|G|

Itulah Cerpen Cinta MALAIKAT UNTUK TASYA  Dari  Mimin Khoirum Widiawati

Profil Penulis

Nama : Mimin Khoirum Widiawati
TTL : Malang, 26 DEsember 1996
Sekolah : SMKN1 Bontang Kalimantan Timur
Alamat : Jalan RE MARTADINATA Loktuan, Bontang
Hobi : Menulis, Memasak, Tidur
Alamat Facebook : widicamutz@yahoo.co.id
Alamat Twitter : MiminKhoirum@yahoo.co.id


Punya Cerpen Juga Atau Puisi silahkan kirim ke blog ini dengan menuju link Kirim Tulisanku

Cerpen Cinta Karya Silvia

Cerpen Cinta Karya Silvia

Cerpen Cinta
Cerpen Cinta
Oleh : Silvia

Cerpen Cinta Karya Silvia
      Melamun bersama lagu Sheila On7 “ Buat Aku tersenyum” membuat aku terhanyut dalam suasana. Lamunan yang melayang jauh entah kemana, yang hanya tertuju pada satu jiwa yang telah berlabuh dihatiku. Jiwa yang akan menemaniku esok saat sendiri sepi seperti malam ini.
“Kring......Kring......Kring”
        Mendadak semua lamunan itu sirna dengan suara HP diatas kasurku. Suara hp yang memanggil-manggilku untuk segera mengangkat panggilan masuk. Telpon dari sebuah nomor asing yang tak aku kenal sebelumnya, ku hiraukan panggilan itu hingga berkali-kali, tapi tak kunjung berhenti juga suara hp-ku, hingga pikiranku berubah untuk mengangkat telponnya. Mungkin saja memang begitu penting.
“ hallo............”
        Serentak aku kaget mendengar suaranya, suara yang tak asing lagi di telingaku. Suara yang lama sekali tidak aku dengar semenjak aku memiliki kekasih baru yang akan menjadi suamiku. Hanya terdiam saat aku mendengarnya.
“hallo........” dengan suara gugup aku menjawab sapaannya
“Dina?” terdengar lagi suaranya memanggilku namaku
“Iya, ngapain telpon...?” jawabku dengan nada tinggi
“Kok cetus banget sich ngomongnya, emang kamu tahu siapa aku?” ngajak membuka pembicaraan.
“Udah dech gak perlu nyebutin nama, aku tahu kok siapa kamu. Ngapain telpon pakai nomer baru juga.!” Suaraku semakin tinggi
“pengen aja. Kangen sama kamu Din. Tau gak nomerku hilang, tapi cuma nomer kamu yang ada di ingatanku. Makanya aku sengaja telpon kamu, tapi malah kamunya jutek banget sich sekarang”. Mulai dech Adit ngrayu mencoba buat aku mau ngomong.
       Setelah sekian lama menghilang tanpa kabar, tiba-tiba ingin lagi datang. Dengan hati yang tak karu-karuan aku tetap dengan sabar mendengarkan omongannya. Sekaligus aku ungkapkan semua apa yang aku rasakan sebelumnya. Berharap unek-unek yang kupendam terbongkar semua dan aku benar-benar telah menghapus bayangnya dari dalam diriku. Sejenak aku terdiam, dan Adit terus berbicara tanpa henti.
“Din, kamu beneran mau nikah ya? Kok tega banget sich kamu sama aku. Aku tuch sayang banget sama kamu tapi kamunya gitu dengan mudah mencari yang lain selama aku pergi. Padahal aku jauh-jauh kesini ya cuma buat kamu nantinya kalo aku pulang”. Dengan nada yang sedikit kecewa adit mengungkapkan hal itu.
“Kamu gak usah sok-sokan pasang tampang kasihan gitu dech, aku juga dah tau kok kalo kamu juga distu udah punya tunangan, dan besok kamu pulang juga buat ngelangsungin acara pernikahannya. Jadi gak usah dech ngomongin hubungan kita lagi. Toh emang dari dulu kita juga gak pernah punya hubungan apa-apa kan?, pacaran juga belum pernah, sekedar teman juga gak.” Aku mencoba tuk menahan emosiku yang telah lama ada dalam hatiku.
Adit mengambil bicara untuk meluruskan apa yang aku sampaikan itu gak benar.
“Aku tuch kaget tau dengar kamu mau nikah, makanya tanpa berpikir panjang aku mutusin buat ngelamar cewek yang selama aku ada disini selalu disampingnku.”
“Itulah yang aku gak suka dari kamu, katanya bilang sayang sama aku. Tapi apa? Cuma omong kosong yang gak ada realitanya, kalo orang beneran sayang tuch gak mungkin pergi gitu aja tanpa kabar. Asal kamu tahu aku udah gak ingat kamu lagi kalo kamu gak telpon aku sekarang ini.” semakin panjang pula aku ngomongnya.
“Din jahat banget sich kamu” adit kembali merengek.
         “Kamu yang jahat tahu. Dimana aja kamu selama ini? Gak pernah nyadar apa jadi orang, emang dulu aku akui kalo aku begitu sayang sama kamu, saat kita jalan aku selalu berharap ada kata-kata yang akan kamu ungkapin buat aku. Tapi apa? Cuma angin doank.” Semakin kesal aku ngomong dengannya, tapi masih aku teruskan perbincangan itu.
          “Din kalo aku masih sayang sama kamu, kamu mau gak jadi isteri aku?” Adit melontarkan kata-kata yang gak aku tahu maksudnya. Cuma gombalan semata apa benar-benar Adit masih mengharapkanku.
“Gak” jawabku singkat.
          “Kenapa Din? Kamu beneran mau nikah ya? Kalo kamu mau nerima aku, hari ini juga aku bakalan pulang, dan aku akan menemui kedua orangtuamu. Aku akan batalin pernikahanku dengan calonku.” Adit terus berusaha tuk meyakinkanku.
     “Terlambat tahu!!!!!!kamu jadi cowok tuch gak punya perasaan banget sich, dimana otakmu. Kamu udah punya tungangan. Dan aku juga begitu. Semua udah aku persiapkan, termasuk hati aku. Aku udah nganggap kalo kita gak pernah kenal. Jadi mulai sekarang aku harap kamu lupakan aku, dan hiduplah dengan calon isterimu itu tanpa bayanganku”.
      Aku mencoba untuk mengambil bicara agar berakhir pembicaraan kita berdua, tapi hatiku masih ingin ngomong dengan lebih jelas dan sopan kepada Adit. Berharap agar Adit bisa terima dengan keadaan yang sesungguhnya, dan aku juga bisa menjalani hidup aku tanpa ada lagi bayang-bayang dirinya. Walaupun saat ini aku berstatus akan menjadi isteri orang tapi tak bisa dipungkiri kadang masa lalu datang pada waktu yang tidak tepat dan hanya akan menggoyahkan niat hati yang sudah diputuskan. Oleh karena itu, aku sebisa mungkin tidak terjebak dalam perbincangan kita berdua. Aku mencoba untuk menjelaskannya secara dewasa.
“Adit, udahlah gak usah kamu ngomong gitu. Besok bulan depan aku akan melangsungkan acara akad pernikahanku, mungkin ini terakhir kali kita ngobrol. Dan selamat ya buat kamu yang akan melangsungakan juga pernikahanmu sebelum tanggal pernikahanku”. Aku hanya mengisyaratkan agar Adit mau mengerti.
“Din, beneran dech aku lebih sayang sama kamu daripada sama calon isteriku, aku mohon Din batalkan acara pernikahanmu itu. Nikahlah denganku! Aku akan ngasih apapun yang kamu minta. Apa kamu tega sama calon isteriku, dia cuma jadi pelampiasanku atas kekecewaanku padamu”. Adit berbicara dengan terisak sedikit tangis yang ku dengar.
“Kita udah dewasa Dit, langkah apa yang harus kita ambil udah menghadang di depan mata kita. Mungkin ini jalan terbaik untuk aku dan kamu. Kita melangkah sendiri-sendiri bersama pasangan masing-masing. Semoga kamu paham” ocehanku yang begitu panjang mengakhiri telpon itu sebelum ku dengar kembali suara Adit.
       Harapan palsu yang pernah kamu berikan padaku hanya menjadi bumerang untuk dirimu sendiri. Dulu kamu selalu tega mengombang-ambingkan perasaanku yang semakin lama semakin mengharapakanmu. Tapi kini saat kutelah memiliki orang lain, kau ingin hadir kembali dalam kehidupanku. Bukan aku yang menginginkan hal itu, tapi kamu yang membuatku untuk jauh melupakanmu. Terlalu banyak hal yang sering membuat aku sakit hati darimu, terlalu banyak air mataku yang jatuh pula karena kamu.
24 Oktober, hari dimana akad pernikahanmu dilangsungkan. Tak ada sedikitpun rasa kecewa dihatiku. Tak kan ada isak tangis yang keluar dari bibirku mendengar kabar pernikahanmu itu. Karena aku memang telah lama menganggap tak pernah mengenalmu, dan tanggal 7 November aku juga akan melangsungkan pernikahanku. Jauh-jauh hari aku mempersiapkan semua demi kelancaran acaraku.
Allah itu maha adil, Dia menciptakan seseorang untuk aku dan kamu dalam waktu yang bisa dibilang bersamaan. Itu artinya Allah tidak menginginkan adanya kesedihan yang membuat salah satu dari kita sedih terpaku sendiri. Allah memberiku kebahagian dan Allah juga mendatangkan kebahagaian itu pula untukmu.

=====*****=====

|T|H|A|N|K|'S| |F|O|R| |R|E|A|D|I|N|G|

Itulah Cerpen Dari  Silvia

Profil Penulis

Nama : Silvia
Alamat : Wonosobo, Jawa Tengah
Email : candle_link@yahoo.com


Punya Cerpen Juga Atau Puisi silahkan kirim ke blog ini dengan menuju link Kirim Tulisanku

Cerpen Cinta - Hujanmu menghujamku

Cerpen Cinta - Hujanmu menghujamku

Cerpen Cinta - Hujanmu menghujamku
Oleh : Elmar Anugerah

Cerpen Sedih Elmar Anugerah

      Hujanmu menghujamku
Hujan,
Aku dan dia adalah insan dalam satu barisan.
Aku bergaris dia begitupun katanya.
Kau datang membawa hasrat rindu sedang terbang jadi randu.
***
Memang tak dapat ku elakkan lagi benakku terlanjur beranak parasmu. Semakin ku kembangkan lagi tarikan sudut bibirku saat itu. Dalam malam aku tuahkan sebutanmu sampai larut aku pejamkan tetap sama. Dia bersama waktu terus menghabis dengan peristiwa-peristiwa yang terekam selama 5 tahun menyalin sebuah jalin. Tapi entah halang bagiku kelak, hanya harap semakin kuat membawanya bersama duduk berikrar. Aku bergeming. Esok saat mentari mulai beranjak dari singgahannya akan kubuang rindu hati dalam ruang. Lalu terpejam.

sinar menyorot tajam dari sudut kaca jendelaku yang terbuka lebar dari tirainya lalu cepat  terhalau kedua telapak tanganku membenahkan penyinaran yang terlalu mengeksposku . Aku masih terbungkus rapih dengan selimutku berdiam sebentar melirik sedikit ke sudut meja yang berkedip. Terjelengkat duduk sembari  menyerngit segurat senyum setelah membaca notif BBM-ku.

Sekilas kupikirkan yang tak pernah terpikirkan, dia adalah kilasanku, selama aku menjalin apa yang ku nilai terhadapnya berbeda dengan notif yang ku tatap intens saat ini, tidak pernah dia merindu sampai kabar terdengar sebelum aku. Bahkan hujan sebelum terlelap aku baru melotarkan sebutanmu. Mungkin debit sayangnya bertambah tinggi berenda rindu yang bergulir dari waktu ke waktu.

“aku menunggumu.’’   Segera ku balas.

 ***

Malam mengahampar luas di altar langit dengan bintik-bintik berkilau yang menghamburnya, terabasan ombak berkejap-kejap memecah hening. semilir angin laut terus menghempas dingin sampai tulang rusuk hingga mendesir darahku. Pada hamparan pasir pantai sundak aku duduk menekuk lutut sampai tangan berpangku bahu terhadapku. Aku kira amora, padahal memang amora. Langsung mensejajari posisi singgahku.

Sekarang hening yang memecah riak ombak. Seperti baru saling mengenal terus mendalami keheningan. Sampai tidak terasa telah menyandarkan kepala. Berdua saling mengkhusukkan tatapan pada laut yang mengalunkan sebuah nada. Sebutanku hanya dijawab senandung sederhana.

“hmm?’’

“ada apa?’’ pertanyaanku direnggutnya kembali dalam diam. Malah seperti pertanyaan yang berbalik menghujamku. Aku semakin terjelma dalam keraguan. Lalu mencoba mencengkram kuat jemarinya.

“mas, aku minta putus.’’

Terngiang jelas di telingaku. Sontak mataku membulat. Aku benar-benar tidak memikirkan apa yang seharusnya aku pikirkan. Mungkin ruangnya tidak dapat menampung banyak debit kerinduan yang melumer atau ini bentuk luapan kerinduan yang membuncah?  Ku kira kita dapat menjadi kata. Tapi salah!

“ kenapa ra ?’’ timpalku tidak percaya.

Aku merengkuh bahunya terus menatap intens sampai manik matanya kini mulai berair.

“pesawatku take off pukul 08.15 aku menunggumu, aku harap kau mengantarku.’’ Kalimatnya lalu tangan membekap mulut menahan luapan tangisnya.

Sungguh aku tidak menduga garis ini. Dadaku serasa teriris tipis-tipis dengan sembilu paling tajam. Luka disana kian asin oleh angin laut yang mendesir lembut namun menyeretku dalam kerapuhan. Lidahku  kelu, tubuhku kaku, hatiku membeku. Detik demi detik menjadi menit dari menit ke menit hingga berjam-jam bahkan hampir setiap hari sampai 5 tahun lamanya hubunganku dapat kandas sia-sia bertukar asa.

Kini diam telah merenggut kehangatan. Berhadap ku kuatkan untuk menopang, melihat mata yang kini sayu terus merunduk  tak mampu membalas tatapan mataku. Lembar yang telah melebur bercampur isak merasuk dalam hati melumpuhkan olah pikirku. Belum sempat aku mengatakan sesuatu tapaknya meninggalkan jejak padaku.

aku mencoba menahannya ya aku sangat menjaganya, kutarik nafas dalam-dalam lalu aku hembuskan perlahan  namun nihil aku tidak bisa membendungnya, bulir-bulir air mataku jatuh, aku menangis sejadi-jadinya, jari-jemariku mengepal banyak butir pasir sekelilingku. Tak tahan aku ingin melepasnya, teriakan yang mampu mengurangi  kerapuhanku. Lalu dengan keras aku luapkan kemarahanku memecahkan keluh labuh dalam dadaku.

***
Pagi ini matahari tak melihatkan mentarinya. Berselimut hitam tebal bersama air yang bercucuran dengan derasnya. Tampaknya lembab seperti sembab pada mataku. Nampaknya semalam aku bermimpi buruk.
PING!! Terkesiap aku membaca pemberitahuan BBM-ku, malah aku mendengus kesal  pasalnya yang muncul hanya pesan tidak penting. Dia yang ku harapkan malah kabar bertiup entah kemana rimbanya.
Masih menunggu entah apa yang pasti. Sempat terhempas sebersit kecewa berdominan asa semakin meragukan langkah tidak melakukan tingkah. Kusakukan kembali ponselku lantas menekuri kesedihan yang kian jadi. Aku terkekeh saat menoreh pada detik yang berdinding, langsung mencari tapak yang dia jejakkan tanpa memperdulikan pakaian yang kukenakan tanpa memperdulikan derasnya hujan yang mengguyur.

Aku melaju dengan kecepatan melebihi rata-rata . Aku mengejar waktu tanpa memperdulikan keselamatanku, mencoba menahan langkahnya agar tingkah tidak jauh disana. Kembali kebahagiaan tidak memihak padaku, aku menghubungi ponselnya tapi tidak ada jawaban, message aku pun tidak dibalasnya, BBM-nya tidak aktif. Pikiranku kacau kulampiaskan pada pedal gas mobilku mempercepat kelajuan. Tiba lampu LED berkedip lalu bergegas membaca mention yang masuk pada account-ku.

‘’penerbangan Chicago.’’

Harapanku menipis terlekang waktu. Kumohon aku hanya ingin menjamah tangannya untuk terakhir ini, jika tidak aku harap dapat melihatnya melontarkan senyum sebagai salam perpisahan bagitupun aku. Sayang aku terlambat mencerna isi hatiku. Sedikit mengerang menahan sakit lantaran hantaman keras pada kepalanku.

***
Tiba pada Bandara Adi Sutjipto, Yogyakarta. Aku terus berlari sambil melihat sekelilingku. Tangan ku meremas di bagian dada dengan simbah air yang terus mengalir lewat celah bibirku. Berulang  menyebut kata Chicago  sambil menunjuk pada papan informasi penerbangan. hingga mendapatkannya kembali berlari mengejar waktu 5 menit. aku terus berpacu kencang menuju terminal D2 keberangkatan luar negeri.

senandung syahdu dari dadaku berdetak sangat kencang bak genderam mau perang. Agak merukukkan badanku dan mengatur nafasku sebentar . Sampai tatapanku sudah tak asing lagi pada langkah lamban gadis berkeperawakan tinggi dengan rambut menjuntai sebahu lalu berteriak lantang untuk menghentikan asumsinya. Gerak tubuhku di tahan sangat kuat saat aku memaksa ingin menerobos. Ketakutanku semakin melonjak melihatnya memasang headset pada telinganya lalu mengacuhkan histerisku dan semakin berlalu dari jauh pandangku.

Jejak-jejak resah aku tapaki merekahkan amarah yang menggeram. Tidak berhasil meredam gejolak di ulu hatiku. Aku berjalan gontai pada padang luas kemudian melemas hingga tak kuasa menopang berdiriku. Aku diterpa cerita yang menuntut derita. Pada luas apa bulir ini ku tadahkan, Pada lapang apa kepala ini ku sandarkan! Aku terus menghanyut dalam isak seketika ambruk serempak pada deras yang kembali mengguyur.

Hujan, hadirmu membasahi alamku
Debitmu berduyun membawa aliran tangis deras
Lewat sela mataku
Isak tak dapat ku bekap
Sesal terus menghujam
Kepal tak dapat ku eratkan lagi
Lutut hanya bersimpuh pada luas sekelilingku. Aku bergeming.

lampu LED kembali berkedip mengisyaratkanku segera membaca pemberitahuan yang ternyata hanyalah Broadcast message yang berbunyi :

"kau penunda suka menunda makalah sesal tak pernah tertunda."
Profil Tentang Penulis: Assalamualaikum WR. WB.

Hai teman-teman. Namaku Dahlil tiyas prabandari, aku duduk dibangku kelas x-1 SMAN4 Kab. Tangerang. Hobiku banyak salah satunya menulis saat senggang dan membaca sebagai informasi dan pelengkap bahan menulisku.

awalnya tidak kemudian sangat. Berikut kutipannya :

sambil berkutik pada soal latihan pelajaran matematika yang merenggut sisi humorisku saat itu. aku memaku pandangan pada perkataan yang tertera di layar ponsel via message dan mendengus kesal menyebut kata dengan istilah "ALAY" kataku. pada awalnya aya tidak menanggapi istimewa pada buku-buku yang banyak bercerita
Kata-kata rumit dan merumitkan ditambah lagi saya sangat memojokkan pelajaran bahasa Indonesia sedari dulu. Menyudut pandangkan seseorang yang sangat menekuri bacaan dan terlihat menyeret dalam jurang pertapaan yang semakin terbuat mendalami setiap inci dr sekecap kata yang tertuang membuat saya terpekik melihatnya sekaligus mati penasaran pada apa yang tercerna dalam pikiran mereka setelah membaca sampai tak sedikit seseorang berpuas dengan gelak tawanya hingga situasi melanklonis sangat tercipta sampai tersedu-sedu. saat itu hanya kata
"apaan sih!" sambil menyimpan banyak pertanyaan. Tiba-tiba temanku bercerita apa yang dia bayangkan tentang beratus lembar yang dia lahap sendirian. Lalu menawarkan pedaku untuk lebih mengetahui apa yang dituturkannya. Aku terima saja untuk menjawab pertanyaan yang beranak tanya pada benakku.

Hanya melihat covernya saja saya mulai menyukai. Saya mulai asik melahap bab demi bab sambil membayangkan tokoh itu adalah aku. Tentu saja novel remaja tentang percintaan. Bagaimana aku tidak terlarut dalam sajak-sajak yang menyelamiku dalam-dalam dan terhanyut pada lembarnya. Karena sangat menikmati dengan sehari saja aku bisa menghabiskan tiap-tiap tebalnya.
Setelahnya rasa keinginan besarku yang ingin membuat berita melebihi cerita yang kubaca kali pertama.

Awalnya hanya waktu yang kukejar dengan kepercayaan diri yang melebihi batas tampung untuk menyelesaikan ceritaku yang sangat singkay bahkan bisa disebut cerkat (cerita singkat) kataku. Alhasil pemikiran yang tertuah menjadi tulisan kali pertamaku yang berintikan cinta sejati itu tidak membuat para pembaca (reader) berekspresi seperti yang kulihat pada reaksi temanku. Tentulah kegagalan sangat membuatku menyebut kata asa.

Dering ponsel yang bertanda message masuk kembali membuatkuMenggariskan senyum kecutku, pasalnya kembali pesan dengan kata yang kusebut "alay" lagi mendatangiku. Berikut dengan karya tulisnya yang dia share padaku sampai aku mengagumi karena tokoh memakai artis favorite-ku ditambah penggunaan EYD yang benar membuatku semakin tertakjub. Hanya kata
"apa aku bisa seperti itu bahkan lebih, lalu kapan?"

sudah sekitar satu bukan aku belajar merakit kata demi kata yang aku bisa. keadaan musim yang sudah memasuki musim penghujan aku berselimut pada gelap malam menatap derasnya air berembun pada kaca jendelaku kemudian terlintas aku mendapatkan inspirasi Membuat cerita dengan kata 'hujan' lalu kukembangkan sampai teman-temanku benar-benar terkesan membacanya walau aku tau masih banyak penulis proporsional diluar sana. Kini dengan tanggapan dr salah satu kawanku yang sangat positif dan membangun menjadikanku lebih semangat dalam menulis dan membaca.

Waktu memang sangatlah berharga setiap detiknya. Asalkan melakukan hal yang positif seperti hal-nya menulis maupun membaca kita dapan mengetahui banyak variasi inspirasi yang tertores jadi tulisan. Dengan membaca kita mengenal dunia dengan menulis maka dunia mengenal kita. Jadi tetaplah menulis
waktu memang sangatlah berharga di tiap detik putarnya. Asalkan melakukan hal positif seperti hal-nya menulis maupun membaca kita dapat mengetahui banyak variasi inspirasi yang tertores jadi tulisan. Dengan membaca kita dapat mengenal dunia begitupun dengan menulis maka dunia mengenal kiya. Jadi menulislah apa yang kamu pikirkan walau hanya satu kalimat. Menulis, menulis, dan menuslah !

|T|H|A|N|K|'S| |F|O|R| |R|E|A|D|I|N|G|

Itulah Cerpen Dari  Elmar Anugerah

Alamat facebook :
Dahliltyas@yahoo.co.id
Alamat rumah :
Kompek asrama 203 . Kota tanggerang.
Maksih banyaaaak.
Tyas ;)


Punya Cerpen Juga Atau Puisi silahkan kirim ke blog ini dengan menuju link Kirim Tulisanku